Dokter Ingatkan Risiko Henti Jantung Mendadak Akibat Tren Olahraga Ekstrem

Share

Tren olahraga ketahanan fisik intensitas tinggi seperti Hyrox kini tengah digandrungi oleh masyarakat urban di Indonesia. Olahraga fungsional ini menggabungkan lari jarak jauh dengan gerakan beban ekstrem yang menantang kebugaran.

Namun, di balik popularitas tersebut, pakar kesehatan mengingatkan adanya bahaya fatal bagi individu yang nekat mencobanya tanpa memahami kondisi organ dalam, terutama jantung. Hal ini menjadi sorotan karena banyak masyarakat awam langsung terjun ke olahraga berat demi mengikuti tren di media sosial, seperti dilansir dari Detik Health.

Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Brawijaya Hospital Taman Mini, Dr dr Ismail Dilawar SpBTKV Subsp JD(K) MARS, menekankan pentingnya persiapan fisik sejak dini bagi masyarakat yang ingin mencoba olahraga intensitas tinggi.

"Kalau mereka yang biasa dari muda, dari usia dini sudah berolahraga gitu ya, mereka sudah terbiasa. Tapi banyak juga yang mengikuti tren. Mereka nggak tahu kemampuan tubuhnya tiba-tiba yuk ikut maraton, ikut olahraga berat ya, ada HIIT, segala macam, sekarang itu yuk berat-berat semua olahraganya, mengikuti tren," ujar dr Ismail kepada detikcom ditulis Jumat (3/7/2026).

Fenomena berolahraga ekstrem tanpa persiapan ini menyimpan risiko besar terkait adanya penyakit atau kelainan jantung tersembunyi (asimtomatik). Ketika jantung dipaksa bekerja melampaui batas normal secara mendadak, kondisi tersebut dapat memicu henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) yang berujung fatal.

"Mereka nggak tahu kesehatan mereka sendiri sebelum mereka melakukan kegiatan olahraga yang berat tersebut. Dan mereka nggak tahu kalau mereka sebenarnya ada sakit jantung. Jadi apa sih yang harus dikerjakan? Kalau kita sudah mau melakukan suatu kegiatan olahraga yang baru dan belum kita ketahui berat ringannya, ada baiknya kita yang pertama adalah mengetahui kesehatan kita," imbau dr Ismail.

Pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) sangat disarankan untuk mengantisipasi risiko fatal saat melakoni olahraga berintensitas tinggi. Dr Ismail memaparkan bahwa pemeriksaan dasar rekam jantung (EKG) terkadang belum cukup kuat untuk mendeteksi kelainan yang lebih spesifik pada olahraga berat seperti Hyrox atau maraton.

Bagi masyarakat yang berniat terjun ke olahraga dengan beban kardio ekstrem, dr Ismail menyarankan metode skrining yang lebih mendalam untuk melihat anatomi dan fungsi gerak jantung secara nyata.

"Untuk jantung apa sih? Misalnya pakai ekokardiografi, pakai treadmill, pakai sekarang ada CT scan atau MRI. Itu sampai demikian canggihnya.

Kalau ditemukan pada pemeriksaan awal, nanti dilakukan lagi dengan pemeriksaan-pemeriksaan selanjutnya. Kateterisasi, CT Angio, dan sebagainya. Jadi memang ini tergantung dari kemampuan masing-masing secara finansial gitu ya, tapi nasihat yang paling tepat adalah lakukan pemeriksaan yang memang sesuai dengan apa yang dibutuhkan," ujarnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author