Pemerintah Siapkan Sistem Distribusi CNG 3 Kilogram Mengadopsi Pola LPG
Pemerintah Indonesia bersiap meluncurkan produk gas alam terkompresi atau CNG 3 kilogram bernama tabung CNG Merah Putih untuk skala rumah tangga dan industri kecil, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Senin (6/7/2026).
Sistem distribusi tabung gas baru ini dinilai sangat memungkinkan untuk mengadopsi pola rantai pasok Liquefied Petroleum Gas atau LPG 3 kilogram bersubsidi yang sudah berjalan saat ini tanpa perlu membangun infrastruktur dari nol.
"Sangat bisa menggunakan rantai pasok dan distribusi yang sudah ada, seperti Gas Melon. Konsepnya plug and play," ujar Hadi Ismoyo, Anggota Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI).
Hadi Ismoyo menjelaskan bahwa pemanfaatan pangkalan LPG yang tersebar di berbagai daerah dapat menjadi solusi cepat untuk titik distribusi, meskipun stasiun kompresi yang terkoneksi dengan pipa gas Trans-Jawa sebagai jaringan utama tetap perlu diperbanyak.
"Bisa memanfaatkan titik-titik pangkalan yang sudah ada sebagai titik-titik distribusi. Namun, perlu diperbanyak stasiun kompresi yang terkoneksi dengan pipa gas Trans-Jawa sebagai backbone source gas tabung CNG ini," tambah Hadi Ismoyo.
Untuk wilayah awal, Hadi Ismoyo memetakan kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang pasokannya diintegrasikan langsung melalui jalur pipa gas Trans-Jawa, sedangkan wilayah ujung barat memanfaatkan fasilitas regasifikasi terapung.
"Banten bisa dipasok dari pipa gas dari floating storage regasification unit [FSRU] Lampung—Pagar Dewa menuju subsea gas pipeline ke Serang, Banten. Lalu untuk DKI Jakarta, pasokan bisa diambil dari FSRU Regas Nusantara," jelas Hadi Ismoyo.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat pengujian tabung komposit tipe 4 yang sementara ini diimpor dari China tersebut telah memasuki tahap ketiga dan menyisakan satu tahap lagi sebelum diedarkan ke masyarakat.
“Namanya tabung merah putih,” ungkap Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM pada Senin (29/6/2026).
Laode Sulaeman menambahkan bahwa penerapan produk ini direncanakan berjalan pada bulan Juli 2026 setelah seluruh tahapan pengujian selesai dilakukan.
“Ya maksudnya satu tahap lagi sudah bisa diedarkan. Iya [penerapan pada Juli],” tambah Laode Sulaeman.
Kementerian ESDM saat ini memilih mendatangkan material tabung dari luar negeri demi memastikan standar kualitas bahan dasar serat komposit penyusun tabung tersebut tetap terjaga.
“Saat ini [impor tabung] dari China saja,” kata Laode Sulaeman.
Dewan Energi Nasional merekomendasikan agar tahap awal implementasi program gas CNG Merah Putih diprioritaskan pada wilayah-wilayah yang letaknya dekat dengan sumber gas bumi atau wilayah dengan kesiapan infrastruktur yang matang.
"Implementasi awal sebaiknya diprioritaskan wi wilayah yang dekat dengan sumber gas atau jaringan gas yang memiliki infrastruktur CNG yang sudah tersedia,” ungkap Muhammad Kholid Syeirazi, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) pada Rabu (1/7/2026).
Muhammad Kholid Syeirazi menerangkan bahwa distribusi energi alternatif pengganti LPG ini sebaiknya dijalankan secara bertahap menggunakan basis klaster karena infrastruktur pendukung CNG di Indonesia belum merata.
“Distribusi CNG lebih tepat dilakukan secara bertahap dan berbasis klaster, bukan langsung merata ke seluruh Indonesia," tambah Muhammad Kholid Syeirazi.
Pembangunan ekosistem yang matang mulai dari pasokan, infrastruktur pengisian stasiun utama dan cabang, hingga logistik ditekankan oleh DEN sebagai syarat mutlak sebelum bahan bakar komersial dilepas ke pasar.
"Jika pasca uji teknis dinyatakan layak operasi komersial, yang harus dipastikan adalah keseluruhan ekosistemnya, mulai dari ketersediaan pasokan gas, infrastruktur pengisian [mother station dan daughter station], sistem logistik, hingga penerimaan masyarakat," jelas Muhammad Kholid Syeirazi.