Diare Saat Hamil Tak Boleh Disepelekan Karena Memicu Keguguran
Gangguan pencernaan seperti diare yang dialami wanita hamil sering kali dianggap sebagai dampak perubahan hormon biasa. Padahal, penanganan yang terlambat berisiko mendatangkan bahaya serius bagi keselamatan janin serta kondisi kesehatan ibu.
Kondisi diare terus-menerus berpotensi memicu dehidrasi, merangsang kontraksi rahim, hingga berujung pada persalinan prematur maupun keguguran, seperti dilansir dari HaiBunda.
Berbagai faktor dapat memicu gangguan pencernaan ini pada ibu hamil. Dokter menjelaskan penyebabnya meliputi perubahan hormon, infeksi bakteri, konsumsi makanan atau air terkontaminasi, intoleransi makanan, hingga reaksi akibat suplemen multivitamin dan zat besi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa episode diare menyebabkan hilangnya cairan serta elektrolit seperti natrium, klorida, kalium, dan bikarbonat. Jika cairan tersebut tidak digantikan, risiko dehidrasi akan meningkat pesat.
"Diare selama kehamilan biasanya ringan dan sementara, dan tidak boleh diabaikan ketika terjadi, untuk mencegah dehidrasi," kata profesor obstetri dan ginekologi di University of Ibadan, Oyo State, Christopher Aimakhu.
Christopher Aimakhu menerangkan bahwa pergerakan usus yang terganggu ber dampak langsung pada organ reproduksi.
"Usus dan rahim adalah organ berotot. Jika usus bergerak cepat dan terjadi relaksasi, efek yang sama dapat terjadi pada rahim. Jika tidak hati-hati, diare dapat menyebabkan ancaman keguguran atau persalinan prematur," ungkapnya.
Mengenali Gejala Dehidrasi dan Cara Penanganan
Ibu hamil diimbau mewaspadai sejumlah gejala dehidrasi yang memerlukan penanganan medis segera. Tanda-tanda tersebut mencakup pusing, rasa haus berlebihan, penurunan frekuensi buang air kecil, kram perut, demam, lidah kering, hingga timbulnya darah atau lendir pada feses.
"Jika pusing, sangat haus, buang air kecil sedikit, itu adalah tanda-tanda dehidrasi. Kemudian jika ibu hamil mengalami sakit perut atau kram, karena usus sudah kering, dia mungkin mengalami masalah. Ketika buang air besar sangat banyak dan terdapat darah atau lendir dalam fesesnya, dia juga harus memeriksakannya," kata Aimakhu.
Langkah utama pencegahan dehidrasi dilakukan dengan mengonsumsi air minum secara mencukupi. Konsumsi makanan hambar dan rendah serat seperti nasi, roti, serta pisang sangat disarankan, sembari menghindari produk susu atau yogurt yang memicu buang air besar.
"Pastikan minum banyak air. Pastikan juga makanan baik-baik saja dan bergizi. Pilih makanan yang hambar atau padat, seperti nasi, roti, dan makanan rendah serat.
Pisang bisa membantu. Kemudian, hindari makanan yang dapat memicu atau menyebabkan diare, seperti susu dan yogurt," ujar Aimakhu.
Penanganan diare juga dapat menggunakan obat aktif seperti loperamide atau asupan probiotik sesuai petunjuk dokter. Para ahli menegaskan agar ibu hamil tidak melakukan pengobatan mandiri tanpa konsultasi medis terlebih dahulu.