Defisit Neraca Pembayaran Indonesia Kuartal I-2026 Membengkak Tajam
Fondasi eksternal Indonesia dilaporkan mulai mengalami pelemahan signifikan pada awal tahun ini. Kondisi tersebut memicu tekanan besar terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dalam beberapa bulan terakhir.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,15 miliar. Angka ini membengkak secara signifikan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tercatat defisit sebesar US$6,07 miliar.
Kemerosotan tajam juga melanda transaksi berjalan yang mencatat defisit hingga US$4 miliar atau setara 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto. Padahal, pada kuartal sebelumnya, sektor ini masih menorehkan surplus sebesar US$2,5 miliar.
Penyebab utama dari melebarnya defisit ini adalah melemahnya kinerja mesin pencetak devisa nasional. Surplus perdagangan barang yang biasanya menjadi bantalan stabilitas kini menyusut dari US$10,2 miliar menjadi hanya US$8Var miliar.
"Kinerja ekspor nonmigas triwulan I-2026 tidak setinggi capaian pada triwulan sebelumnya, yang dipengaruhi oleh perlambatan ekspor riil, di tengan perbaikan indeks harga," sebut laporan BI.
Meskipun pengiriman CPO masih tumbuh 14,5% secara tahunan berkat permintaan India, sektor komoditas lain justru tertekan. Eksportasi besi dan baja terkontraksi 0,6%, dengan penurunan volume riil yang mendalam dari 4,3% menjadi 5,2% pada kuartal I-2026.Kondisi serupa dialami oleh sektor batu bara yang masih mencatat kontraksi sebesar 8,4%. Tekanan ini dipicu oleh penurunan harga komoditas global sekaligus melemahnya tingkat permintaan di pasar internasional.
Secara kawasan, ekspor nonmigas ke Malaysia merosot hingga 8%, lebih dalam dari kontraksi sebelumnya yang hanya 1,5%. Pengiriman ke Vietnam juga melambat tajam dari 2,4% menjadi 0,1%, sementara ke Thailand melambat dari tumbuh 17,5% menjadi 12% secara tahunan.
"Perlambatan tersebut dipengaruhi oleh penurunan pertumbuhan ekspor besi dan baja serta logam tidak mengandung besi, sejalan dengan tertahannya kinerja perekonomian Vietnam," sebut Laporan BI.
Secara nominal, nilai ekspor nonmigas kuartal I-2026 turun menjadi US$63,5 miliar dari kuartal sebelumnya sebesar US$69,7 miliar. Neraca perdagangan nonmigas pun ikut menyusut menjadi US$13,3 miliar dari US$16 miliar.
Tekanan Impor Minyak dan Defisit Jasa
Sektor migas turut menyumbang tekanan akibat lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Defisit migas tercatat berada di angka US$5,3 miliar.
Meski volume impor minyak sedikit turun menjadi 36,2 juta barel, harga beli membumbung dari US$74,5 per barel menjadi US$80,1 per barel. Total biaya importasi komoditas ini mencapai US$7,5 kilobar miliar.
Tekanan struktural lain bersumber dari defisit neraca jasa yang membengkak menjadi US$4,6 miliar, serta defisit pendapatan primer yang bertahan di level tinggi sebesar US$9,2 miliar.
Defisit pendapatan primer tersebut mencerminkan mengalirnya devisa ke luar negeri untuk pembayaran bunga utang, kupon surat utang negara, dividen luar negeri, hingga repatriasi keuntungan korporasi multinasional.
Sementara itu, realisasi investasi langsung atau foreign direct investment (FDI) juga melambat dengan pertumbuhan US$2 miliar, turun dari kuartal sebelumnya yang mencapai US$3,2 miliar.
Cadangan Devisia RI Menipis
Surplus pada transaksi modal dan finansial tercatat sebesar US$4,9 miliar, menyusut drastis dari kuartal sebelumnya yang sebesar US$9 miliar. Hal ini membuat ketahanan eksternal kian rentan.
Terlebih lagi, sebagian besar modal masuk berstatus jangka pendek pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Utang Negara (SUN). Investasi portofolio asing membukukan surplus US$0,7 miliar, dengan kepemilikan asing di pasar SUN mencapai US$50,2 miliar atau 12,4%.
Ketergantungan pada dana jangka pendek ini membuat rupiah sangat volatil dan sensitif terhadap kebijakan suku bunga The Fed, yield US Treasury, serta harga minyak mentah internasional.
Langkah intervensi moneter untuk menstabilkan kurs telah menggerus cadangan devisa dari US$156,5 miliar menjadi US$148,1 miliar pada kuartal pertama. Hingga akhir April, cadangan devisa kembali merosot ke posisi US$146,2 miliar.
Kondisi ini mengerek rasio utang luar negeri terhadap cadangan devisa menjadi 292,5%, meskipun cadangan devisa terhadap utang jangka pendek masih naik 55,8%.
Guna mempertahankan daya tarik aset rupiah, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi lewat kenaikan agresif sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Namun, kebijakan ini harus dibayar dengan biaya dana yang mahal dan perlambatan ekonomi domestik.
Secara akumulatif, sejak awal tahun 2026 hingga saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah mencatat pelemahan sebesar 5,79%.