DDTK bayi dan balita wajib sejak usia 0 hingga 6 tahun

Share

Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) adalah pemeriksaan untuk melihat apakah ada keterlambatan perkembangan pada anak. Pemeriksaan ini menjadi langkah awal agar potensi gangguan bisa ditemukan lebih cepat. Dilansir dari HaiBunda, DDTK umumnya dilakukan pada bayi dan balita di faskes dasar seperti Posyandu atau Puskesmas, sesuai jadwal yang ditentukan.

Orang tua juga bisa memanfaatkan pemeriksaan di Posyandu untuk membantu pemantauan rutin agar tidak terlewat. Komponen yang diperiksa meliputi pengukuran fisik serta pemantauan berbagai tonggak perkembangan. Di antaranya aspek motorik dan interaksi sosial anak.

Pemeriksaan DDTK wajib diikuti oleh semua anak mulai dari usia 0 hingga 6 tahun. Hal ini disebut sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak sejak dini.

Menurut Buku Ajar Pemeriksaan Fisik dalam Keperawatan oleh Ns. Harmila S.Kep, M.Kep, Sp.KMB dkk, DDTK merupakan pemeriksaan wajib bagi anak usia dini untuk mendeteksi gangguan tumbuh kembang. Dengan pemeriksaan tersebut, intervensi yang tepat bisa direncanakan bila ditemukan gangguan.

Intervensi yang tepat dan cepat juga penting untuk membantu mencegah efek jangka panjang. Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah menjaga kualitas hidup anak agar perkembangannya tidak menurun.

Jenis penyimpangan yang bisa terdeteksi

DDTK dapat digunakan untuk mengetahui serta mencegah beberapa jenis penyimpangan. Contohnya mencakup masalah pada pertumbuhan, perkembangan, hingga mental emosional anak. Penyimpangan pertumbuhan meliputi status gizi kurang atau buruk, anak berperawakan pendek atau sangat pendek (stunting), serta lingkar kepala yang terlalu besar. Penemuan dini dari kondisi-kondisi ini membantu arah evaluasi selanjutnya.

Untuk penyimpangan perkembangan, DDTK menyoroti misalnya terlambat bicara, terlambat berjalan, dan gangguan motorik halus lainnya. Pemeriksaan membantu melihat apakah ketercapaian kemampuan sesuai tahap usia. Adapun penyimpangan mental emosional anak dapat berupa gangguan konsentrasi, hiperaktif, autisme, serta gangguan emosional. Deteksi dini pada komponen ini berhubungan dengan kebutuhan penanganan yang lebih sesuai.

Jadwal DDTK berdasarkan usia anak

DDTK perlu dilakukan secara berkala agar manfaatnya lebih optimal. Secara umum, pemantauan tumbuh kembang anak perlu dilakukan setiap bulan, namun frekuensi DDTK bayi dan balita mengikuti rekomendasi sesuai usia.

Frekuensi yang disebutkan adalah: usia 0-12 bulan diperiksa 1 bulan sekali. Pada rentang usia 1-3 tahun, pemeriksaan dilakukan 3 bulan sekali. Untuk usia 3-6 tahun, pemeriksaan dilakukan 6 bulan sekali.

Sedangkan usia 6 tahun ke atas diperiksa 1 tahun sekali. Dalam contoh laporan DDTK, hasil pemeriksaan dicatat sesuai jadwal. Dengan pencatatan tersebut, grafik pertumbuhan dapat lebih mudah diamati oleh tenaga kesehatan.

Manfaat DDTK bagi bayi dan balita

Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan perlu dilakukan sejak dini untuk mendeteksi kelainan. Termasuk masalah gizi kurang, pertumbuhan terhambat, hingga terlambat bicara.

Dikutip dari buku Mengenal Deteksi Tumbuh Kembang Anak Usia Dini oleh Feri Faila Sufa, dkk, semakin cepat penyimpangan terdeteksi maka tindakan koreksi dan intervensi dapat dilakukan lebih awal. Tujuannya untuk mengembalikan pertumbuhan dan perkembangan anak ke jalur yang seharusnya. Selain itu, tindakan sejak dini juga berupaya mengurangi dampak kelainan. Contoh DDTK dan pemeriksaannya dapat menjadi referensi untuk memahami aspek yang biasa dipantau.

Informasi serupa juga bisa ditemukan dalam DDTK PDF dari sumber resmi atau materi edukasi relevan, seperti materi Posyandu.

Cara melakukan DDTK sesuai komponen yang dipantau

Cara melakukan DDTK disesuaikan dengan komponen yang ingin diperiksa. Mulai dari pertumbuhan fisik, perkembangan anak, hingga penyimpangan sosial emosional.

1. Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan

Untuk mengukur pertumbuhan bayi, dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala secara berkala. Data tersebut kemudian dicocokkan dengan grafik pertumbuhan seperti kurva pertumbuhan WHO atau yang ada di Kartu Menuju Sehat/KMS. Dari hasil pencocokan, dapat dilihat apakah status gizi anak normal, kurang, buruk, atau berlebihan termasuk obesitas.

Indikator yang digunakan dalam DDTK Posyandu di antaranya indikator perbandingan berat badan (BB) dan tinggi badan (TB). Indikator BB dan TB menilai status gizi dengan membandingkan berat badan ideal anak terhadap tinggi badannya. Hasilnya dibagi kategori seperti obesitas (obese), gizi lebih (overweight), beriziko gizi lebih (possible risk of overweight), gizi baik (normal), gizi kurang (wasted), serta gizi buruk (severely wasted).

Indikator perbandingan TB dan usia digunakan untuk menilai perawakan anak. Caranya membandingkan tinggi badan anak dengan anak lain sesuai usia dan jenis kelamin yang sama.

Kategori status perawakan yang disebut dalam contoh laporan DDTK adalah sangat pendek (severely stunted), pendek (stunting), normal, dan tinggi. Sementara itu, indikator perbandingan BB dan usia menentukan status berat badan dengan membandingkan berat badan anak dengan anak lain seusianya. Status berat badan yang dapat dilihat mencakup sangat kurus (severely underweight), kurus (underweight), normal, dan lebih.

Indikator lingkar kepala juga disebut penting untuk memastikan tidak adanya gangguan pertumbuhan di otak anak. Ukuran lingkar kepala pada anak dikategorikan menjadi lingkar kepala kecil (mikrosefali), lingkar kepala normal, dan lingkar kepala besar (makrosefali).

2. Deteksi penyimpangan perkembangan

Selain pertumbuhan fisik, DDTK juga memeriksa perkembangan lain seperti motorik kasar, motorik halus, dan komponen lain yang relevan. Gangguan pada salah satu sistem tubuh dapat menghambat perkembangan anak secara optimal.

Dilansir dari HaiBunda, deteksi dini penyimpangan perkembangan bisa dilakukan secara mandiri menggunakan Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) yang disusun oleh Kemenkes RI. Jika muncul indikasi yang mencurigakan, konsultasi lebih lanjut dianjurkan.

3. Deteksi penyimpangan sosial dan emosional

Komponen lain yang juga diperiksa berkala adalah penyimpangan sosial dan emosional anak. Menurut Permenkes Nomor 66 Tahun 2014, masalah penyimpangan sosial dan emosional pada anak usia 3–6 tahun dapat dideteksi lebih awal menggunakan Kuesioner Masalah Mental dan Emosi (KMME).

Dalam KMME, contoh penilaian perilaku sosial dan emosional mencakup apakah anak sulit fokus, sering tantrum, agresif, dan lainnya. DDTK juga digunakan untuk memantau indikasi gangguan autisme atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH). Jika hasil pemeriksaan DDTK Posyandu menunjukkan adanya hal yang perlu diperhatikan, orang tua dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan. Contoh DDTK dapat dimanfaatkan untuk memahami pemeriksaan sesuai kelompok usia anak.

Intinya, DDTK bayi dan balita mencakup aturan usia, jadwal, manfaat, serta cara mendeteksi penyimpangan tumbuh kembang secara dini. Dengan pemantauan ini, orang tua diharapkan lebih aktif mengikuti perkembangan anak.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author