Mengabaikan Sarapan Memicu Gangguan Hormon dan Risikokan Jantung
Kebiasaan melewatkan sarapan pagi masih sering dilakukan banyak orang karena alasan kesibukan. Padahal, keputusan untuk skip sarapan dapat memberi dampak negatif bagi kesehatan tubuh, dilansir dari Detik Health.
Ketika seseorang melewatkan waktu makan pagi, pasokan glukosa untuk otak akan berkurang. Ahli gizi Marcie Vaske menjelaskan bahwa otak memerlukan glukosa dari karbohidrat agar dapat bekerja secara optimal serta menjaga fokus mental.
Tidak mengonsumsi makanan dalam durasi yang lama memicu penurunan kadar gula darah sekaligus memengaruhi hormon kortisol. Dokter spesialis kedokteran keluarga, Laura Purdy, menyebutkan bahwa sarapan membantu mengelola hormon kortisol yang mengatur respons stres dan suasana hati.
"Kortisol sangat memengaruhi suasana hati, respons stres, dan cara Anda menanggapi tugas serta situasi sehari-hari. Umumnya, kadar kortisol lebih tinggi saat Anda bangun tidur dan menurun seiring berjalannya hari. Mengonsumsi sarapan pagi dapat membantu mengelola kadar kortisol dan stres, serta memberi Anda dorongan mental untuk menjalani hari," kata Laura Purdy.
Dampak jangka panjang dari ketidakseimbangan hormon ini turut mengancam sistem reproduksi dan siklus menstruasi. Ahli diet Claire Rifkin menegaskan bahwa sarapan bergizi secara teratur dapat menstabilkan kadar hormon tersebut.
"Anda dapat mendukung dan menstabilkan kadar hormon ini dengan sarapan pagi yang teratur dan bergizi," kata Claire Rifkin.
Sebuah studi pada Agustus 2020 terhadap 21.972 mahasiswa memperlihatkan kebiasaan melewatkan sarapan berhubungan dengan timbulnya depresi, gangguan stres pascatrauma, dan penurunan rasa bahagia.
"Ketika kadar kortisol terus-menerus tinggi, hal itu dikaitkan dengan kecemasan dan depresi," kata Claire Rifkin.
Pola Makan Tak Terkontrol dan Risiko Jantung
Selain berpengaruh pada psikologis, melewatkan sarapan berisiko meningkatkan porsi makan siang dan malam secara berlebihan. Studi tahun 2020 menunjukkan orang yang skip sarapan cenderung memilih makanan padat kalori pada waktu makan berikutnya.
Dampak metabolik tersebut dapat memicu penyakit kardiovaskular. Penelitian dalam jurnal Endocrinology pada November 2023 mencatat bahaya aterosklerosis atau pengerasan arteri yang memicu serangan jantung dan stroke akibat kebiasaan ini.
Aturan Menu Sarapan Sehat
Tubuh memerlukan asupan nutrisi setelah berpuasa selama belasan jam saat tidur malam. Spesialis penyakit dalam dr Rudy Kurniawan menyarankan agar menu sarapan tetap menyertakan karbohidrat secara seimbang.
"Kalau pagi diharapkan makan yang starchy, jadi yang bertepung atau karbohidrat itu harus ada," kata dr Rudy Kurniawan.
Porsi nutrisi sarapan perlu disesuaikan dengan kebutuhan agar dapat menyiapkan sistem metabolisme tubuh. dr Rudy Kurniawan mengingatkan pentingnya komposisi gizi yang seimbang.
"Sarapan yang dianjurkan sesuai anjuran Isi Piringku, jadi ada karbohidrat, ada protein, dan ada lemak juga. Pilihlah lemak yang lebih sehat, terutama," kata dr Rudy Kurniawan.
Berdasarkan pedoman Isi Piringku dari Kementerian Kesehatan, porsi makan harian idealnya terdiri dari:
- 2/3 dari 1/2 piring berisi makanan pokok seperti nasi, jagung, singkong, ubi, atau talas.
- 1/3 dari 1/2 piring berisi lauk pauk protein hewani dan nabati.
- 1/3 dari 1/2 piring berisi buah-buahan seperti pisang, melon, atau semangka.
- 2/3 dari 1/2 piring berisi sayuran seperti terong, labu siam, atau kangkung.