Dokter Ungkap Ciri Edema Wajah pada Pasien Gagal Ginjal Stadium 5
Seorang wanita berusia 31 tahun di Bekasi didiagnosis mengalami gagal ginjal stadium 5 setelah menunjukkan gejala penumpukan cairan atau edema di area wajah. Kasus yang dialami warga bernama Sema ini sempat viral karena gejalanya baru disadari setelah memasuki fase kritis pada tahun 2024.
Kisah tersebut dilansir dari Detik Health, yang memberitakan bahwa pasien semula tidak merasakan gejala mencolok selama tujuh bulan terakhir sebelum diagnosis medis keluar. Kondisi wajah yang membengkak awalnya hanya dianggap sebagai akibat dari kelelahan aktivitas sehari-hari.
"Jujur nggak ada gejala yang aku rasain di tujuh bulan terakhir itu. Muka aku ya bengep gitu," cerita Sema kepada detikcom, Rabu (20//5/2026).
Pihak dokter spesialis penyakit dalam kemudian memberikan penjelasan medis mengenai kondisi fisik yang dialami oleh pasien tersebut. Pembengkakan pada area muka dipastikan menjadi tanda khas terjadinya akumulasi cairan tubuh akibat penurunan fungsi organ penyaring sel darah.
"Awalnya aku kira karena capek, tapi ternyata kata dokter penyakit dalam, muka aku khas orang kena gagal ginjal yaitu edema, atau penumpukan cairan di wajah," lanjutnya.
Merespons fenomena klinis ini, spesialis penyakit dalam dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH menjelaskan bahwa gejala pembengkakan tidak akan terlihat pada stadium awal perkembangan penyakit. Penurunan fungsi organ biasanya baru memicu tanda fisik yang tampak jelas setelah menyentuh angka di bawah 15 persen.
"Kalau yang namanya gagal ginjal terminal akhir itu tahap lima, dimana fungsi ginjalnya sudah kurang dari 15 persen, bahwa tanda tanda dan gejalanya itu sampai tahap tiga belum tentu ada, kalau orang tidak memerhatikan, tapi apakah bengkak di kelopak mata menjadi tanda? Kayanya tidak, tapi bahwa mukanya bisa sembap itu pada tahap akhir iya," tutur dr Tunggul kepada detikcom Jumat (22/5/2026).
Ia menambahkan bahwa akumulasi cairan pada wajah pasien stadium akhir umumnya tidak terjadi secara tunggal. Tanda klinis tersebut biasanya didahului oleh gangguan serupa pada bagian ekstremitas bawah serta gangguan pada sistem pernapasan.
"Tapi sudah didahului bengkak di kaki, sesak, bengkak di muka dan seterusnya," lanjut dia.
Akibat karakteristik penurunan fungsi organ yang berjalan secara perlahan dan tanpa indikasi awal yang jelas, dr Tunggul mengategorikan penyakit ginjal kronis ini sebagai pembunuh senap atau silent killer. Tubuh pasien dinilai tidak mampu lagi melakukan adaptasi volume cairan saat kerusakan organ sudah mencapai tahapan lanjut.