China Hadapi Ketidakpastian Prediksi Permintaan Energi Nasional
Pemerintah China menghadapi ketidakpastian besar dalam memperkirakan permintaan energi nasional akibat perubahan struktural ekonomi dan pesatnya ekspansi industri baru, seperti dilaporkan oleh Bloombergtechnoz pada Senin (29/6/2026).
Direktur Jenderal Departemen Perencanaan Administrasi Energi Nasional (NEA) China, Ren Yuzhi menyatakan bahwa konsumsi energi selama lima tahun terakhir telah melampaui ekspektasi pemerintah. Pertumbuhan sektor kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik (EV) memperumit penyusunan rencana strategis untuk lima tahun ke depan.
"Memprediksi permintaan energi pada masa depan—terutama listrik—adalah tantangan utama dalam siklus perencanaan berikutnya," kata Ren Yuzhi, Direktur Jenderal Departemen Perencanaan NEA China.
Pertumbuhan cepat sektor EV mendorong lonjakan kebutuhan pengisian daya secara signifikan. Hal ini memicu peninjauan ulang terhadap distribusi geografis pasokan listrik yang selama puluhan tahun difokuskan ke kota-kota besar di wilayah timur.
"Pusat komputasi AI dan pengembangan kendaraan listrik merupakan faktor penting," kata Ren Yuzhi, Direktur Jenderal Departemen Perencanaan NEA China.
Ia menambahkan bahwa kendaraan listrik mengalami pertumbuhan yang jauh lebih cepat dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada tahun ini. NEA kini memperkirakan kenaikan rata-rata permintaan daya tahunan mencapai 600 miliar kilowatt-jam (kWh) dalam lima tahun ke depan, melampaui total produksi tahunan Jerman.
"Kendaraan listrik, khususnya, telah mengalami pertumbuhan yang lebih cepat dalam beberapa tahun terakhir—terutama tahun ini—dan permintaan pengisian daya telah meningkat secara signifikan," kata Ren Yuzhi, Direktur Jenderal Departemen Perencanaan NEA China.
Melonjaknya konsumsi juga dipengaruhi oleh pergeseran industri tradisional seperti baja yang tetap mengonsumsi energi besar, sementara manufaktur canggih menjadi sumber permintaan baru. Pemerintah juga berupaya mengalihkan konsumsi dari bahan bakar fosil ke listrik guna menekan emisi.
"Kita tidak hanya perlu memenuhi permintaan tradisional, tetapi juga kebutuhan sehari-hari masyarakat yang terus meningkat," kata Ren Yuzhi, Direktur Jenderal Departemen Perencanaan NEA China.
Ia menegaskan makin banyak bidang baru yang memiliki dampak signifikan terhadap sistem kelistrikan. Oleh karena itu, otoritas China kini mempertimbangkan untuk merelokasi industri intensif energi ke wilayah barat agar lebih dekat dengan sumber daya terbarukan.
"Makin banyak bidang baru yang memiliki dampak signifikan." kata Ren Yuzhi, Direktur Jenderal Departemen Perencanaan NEA China.
Langkah relokasi ini akan mengubah pola distribusi ekonomi dan infrastruktur China secara masif. Wilayah barat yang semula bertindak sebagai penyuplai bahan mentah akan diproyeksikan memproduksi komoditas siap pakai.
"Wilayah barat secara tradisional berfokus pada ekspor batu bara, listrik, dan gas alam," kata Ren Yuzhi, Direktur Jenderal Departemen Perencanaan NEA China.
Pemerintah China menargetkan wilayah barat dapat mengoptimalkan potensi energi bersihnya secara mandiri. Strategi ini diharapkan mampu menyokong stabilitas pasokan listrik nasional jangka panjang.
"Ke depannya, kemungkinan besar wilayah barat akan mengekspor produk jadi dan daya komputasi." kata Ren Yuzhi, Direktur Jenderal Departemen Perencanaan NEA China.