Cara Mengatasi Trauma Keguguran Saat Menjalani Kehamilan Kembali

Share

Rasa trauma akibat keguguran kerap membayangi perempuan ketika kembali menjalani masa kehamilan. Kondisi ini memicu kecemasan berlebih hingga memengaruhi kesejahteraan emosional selama mengandung.

Kekhawatiran akan kehilangan janin menjadi hal wajar, terutama pada awal masa kehamilan. Risiko kehilangan janin terbesar mencapai 80 persen pada trimester pertama, lalu menurun drastis setelah usia kandungan melewati 13 minggu.

Kecemasan saat mengandung memengaruhi hingga 64 persen perempuan, bahkan dua tahun setelah mengalami keguguran. Rasa cemas dan depresi cenderung meningkat akibat rasa takut yang terus membayangi.

Kondisi kehilangan pada awal kehamilan umumnya dipicu kelainan genetik janin. Bidan Marea Goodman dan Ray Rachlin menyebut keguguran tidak bisa dicegah dan bukan akibat kesalahan ibu.

"Mayoritas keguguran trimester pertama adalah disebabkan oleh kelainan genetik pada janin yang sedang tumbuh. Keguguran kehamilan di akhir kehamilan juga dapat dikaitkan dengan kondisi kesehatan seperti beberapa gangguan autoimun, paparan racun, infeksi, dan trauma fisik," kata Bidan Marea Goodman dan Ray Rachlin, dikutip dari HaiBunda.

Meskipun dialami 1 dari 4 kehamilan, topik ini kerap dianggap tabu. Hal tersebut justru memperberat beban mental serta meningkatkan kekhawatiran para ibu.

Terapis kehamilan Rachel Rabinor, LCSW, PMH-C, menjelaskan bahwa rasa cemas ini nyata. Banyak perempuan mulai merasa lega setelah melewati usia usia rentan kehilangan tersebut.

"Banyak perempuan menemukan kelegaan setelah melewati minggu kehilangan sebelumnya. Dan terutama setelah menyelesaikan trimester pertama karena kemungkinan menurun secara signifikan setelah titik itu," ujar Rabinor.

Para ahli merekomendasikan sejumlah metode praktis untuk meredakan trauma kecemasan saat kembali hamil.

1. Latihan Pernapasan dan Relaksasi

Saat cemas muncul, tubuh merespons dengan napas yang lebih pendek. Melatih pernapasan dalam dapat membantu tubuh kembali rileks dan menenangkan pikiran.

Rutinitas yoga prenatal, meditasi, latihan pernapasan, serta latihan mindfulness efektif meredakan kekhawatiran yang muncul secara mendadak.

2. Menerapkan Metode Lima Indra

Pakar kesehatan mental kehamilan Katayune Kaeni, Psy.D., PMH-C, menyarankan teknik grounded menggunakan lima indra untuk mengembalikan fokus ke kondisi nyata saat ini.

"Ketika Bunda mengalami kecemasan, rasanya seperti ada singa di depan Bunda, sehingga tubuh masuk ke mode bertarung atau lari, tetapi kenyataannya tidak ada singa di sana," jelas Dr. Kaeni.

Metode ini dilakukan dengan mengidentifikasi lima hal yang dilihat, empat hal yang disentuh, tiga hal yang didengar, dua hal yang dicium, serta satu hal yang dicicipi.

"Ini membantu menenangkan pikiran dan memungkinkan Bunda mengenali bahwa semua hal di sekitar Bunda adalah yang nyata, bukan kecemasan yang Bunda ciptakan di kepala Bunda," tutur Dr. Kaeni.

3. Meluangkan Waktu di Alam Terbuka

Berada di luar ruangan terbukti meningkatkan suasana hati dan kesehatan emosional. Paparan sinar matahari pagi juga menambah kadar vitamin D yang baik untuk daya tahan tubuh.

"Bahkan keluar selama 10 menit saja bisa benar-benar mengubah hari Bunda," kata Rabinor.

Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki di atas rumput atau mengunjungi taman terdekat sudah cukup memberikan dampak positif bagi kesehatan mental ibu hamil.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author