Bursa Saham Asia Bersiap Menguat Imbas Dialog AS-Iran

Share

Bursa saham Asia bersiap dibuka menguat pada perdagangan Selasa (23/6) setelah optimisme pasar terhadap kemajuan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran berhasil menjinakkan harga minyak dunia, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Sentimen positif ini muncul di tengah tekanan dari Wall Street akibat koreksi saham teknologi, di mana kontrak berjangka menunjukkan potensi penguatan di Sydney, Hong Kong, dan Tokyo, sementara harga minyak mentah AS terpantau stabil setelah sempat anjlok hampir 3 persen. Di sisi lain, saham SpaceX ambles 16 persen menyusul rencana penjualan obligasi investment-grade demi memuluskan aksi pinjaman besar, sementara mata uang yen Jepang kian melemah mendekati level terendahnya sejak tahun 1986.

Langkah AS merilis izin operasional 60 hari bagi Iran untuk menjual minyak menjadi angin segar bagi Teheran di tengah dialog menuju kesepakatan damai permanen, yang dikombinasikan dengan gairah investasi AI hingga mendongkrak indeks S&P 500 melonjak hampir 20 persen.

Penjualan obligasi SpaceX menjadi aksi pendanaan terbaru dari gelombang perusahaan garis depan AI, dengan Alphabet dan Amazon telah menghimpun utang lebih dari US$300 miliar sejak November, sementara perusahaan milik Elon Musk tersebut membidik dana sedikitnya US$20 miliar. Pihak pasar juga menyoroti dinamika investasi pada sektor kecerdasan buatan yang memicu kekhawatiran mengenai tingkat pengembalian investasi.

“Hal yang paling menonjol adalah gagasan bahwa perusahaan-perusahaan hyperscaler terus memperoleh tingkat pengembalian investasi yang sangat rendah dibandingkan besarnya belanja mereka untuk AI,” kata Matt Maley, Chief Market Strategist Miller Tabak. Kondisi ini menambah kewaspadaan para pelaku pasar modal terhadap fenomena perputaran modal di sektor teknologi tersebut.

“Kekhawatiran besar lainnya berkaitan dengan fenomena ‘investasi sirkular’, ketika perusahaan saling berinvestasi sekaligus berkomitmen membeli produk satu mana lain,” ujar Matt Maley, Chief Market Strategist Miller Tabak. Sementara itu, dinamika politik luar negeri juga berkembang setelah Wakil Presiden AS JD Vance menggambarkan putaran pertama negosiasi dengan Iran berjalan dengan sangat baik. Namun, klaim kesepakatan mengenai izin masuknya kembali inspektur nuklir langsung mendapatkan bantahan resmi dari pihak Teheran.

Pejabat Republik Islam Iran menyatakan bahwa pernyataan Vance “tidak benar dan tidak mencerminkan kenyataan.”

Sentimen investor global turut terbantu oleh reda-nya ketidakpastian politik di Inggris setelah Keir Starmer mengumumkan jadwal pengunduran dirinya, membuka jalan bagi Andy Burnham untuk menjadi perdana menteri berikutnya melalui proses transisi cepat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author