Bursa Saham Asia Melemah Akibat Ketidakpastian Damai AS dan Iran

Share

Pasar saham di wilayah Asia mencatatkan penurunan dari level tertinggi pada sesi perdagangan Selasa (2/6). Langkah mundur ini terjadi di tengah mandeknya dialog perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, bersamaan dengan sikap investor yang mulai menahan diri setelah lonjakan besar pada sektor kecerdasan buatan (AI).

Dikutip dari Bloombergtechnoz, indeks acuan regional MSCI Asia Pasifik mengalami penyusutan sebesar 0,6 persen. Sementara itu, bursa saham Korea Selatan yang sering menjadi barometer investasi teknologi global menunjukkan pergerakan yang tidak menentu di zona merah dan hijau.

Kelesuan minat pada sektor teknologi juga merembet ke pasar berjangka AS, di mana kontrak futures indeks Nasdaq 100 turun 0,6 persen. Penurunan ini terjadi tepat setelah indeks utamanya menyentuh rekor tertinggi pada perdagangan hari Senin.

Di sektor komoditas, harga minyak mentah Brent tertahan di level US$95 per barel karena ketidakpastian di Timur Tengah mengaburkan prospek perdamaian. Di sisi lain, pasar obligasi AS atau Treasury melanjutkan koreksi akibat kekhawatiran bahwa tingginya harga energi dapat memicu inflasi baru dan memaksa Federal Reserve menaikkan suku bunga, dengan yield tenor 10 tahun berada di angka 4,46 persen.

Situasi pasar kian tidak menentu setelah muncul perbedaan pernyataan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengenai hasil pembicaraan telepon terkait pertempuran di Lebanon yang kini memasuki bulan keempat.

"Perbedaan pernyataan antara pihak AS dan Iran menciptakan rasa tidak aman di pasar," ujar Yugo Tsuboi, chief strategist di Daiwa Securities.

Ia menambahkan bahwa "indikasi kejenuhan beli di pasar saham juga menjadi faktor kuat yang mendorong investor melakukan aksi ambil untung."

Meskipun sektor AI terus mendorong pasar saham ke rekor baru, volatilitas tetap tinggi akibat sentimen geopolitik Timur Tengah. Investor masih mengamati situasi rapuh di Selat Hormuz karena pergerakan harga energi sangat memengaruhi inflasi dan kebijakan suku bunga jangka pendek.

Selama ini, Trump berulang kali mengeklaim bahwa negosiasi mengalami kemajuan pesat dan mendekati kesepakatan, meskipun gencatan senjata yang dimulai sejak April lalu tetap rapuh. Sebaliknya, Iran membantah laporan pekan lalu yang menyebutkan kesepakatan sementara sudah dekat. Pada hari Senin, Iran bahkan menyatakan akan bertindak bersama kelompok proksinya, "Poros Perlawanan", untuk melawan Israel jika pertempuran di Lebanon terus berlanjut.

"Ekspektasi terhadap kesepakatan AS-Iran masih sangat dinamis," kata Jason Pride dan Michael Reynolds, analis dari Glenmede.

"Serangan militer baru-baru ini dan pernyataan yang saling bertolak belakang dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa poin-poin krusial dalam draf perdamaian masih belum terselesaikan."

Di tengah dinamika tersebut, indeks S&P 500 di bursa AS berhasil menguat selama delapan hari berturut-turut, yang menjadi tren kenaikan terpanjang sejak Mei 2025 berkat sokongan industri AI.

Alphabet Inc meluncurkan rencana penghimpunan dana senilai US$80 miliar lewat aksi korporasi saham, termasuk investasi bersama Berkshire Hathaway Inc. Langkah ini memperlihatkan masifnya pendanaan korporasi dalam pembangunan infrastruktur AI global.

Pada perdagangan pasca-penutupan, saham Hewlett Packard Enterprise Co melonjak 27 persen setelah merilis estimasi penjualan tahunan yang melampaui prediksi pasar, didorong oleh tingginya permintaan server berbasis AI.

Dari pasar valuta asing, mata uang yen bergerak stabil setelah Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyatakan kesiapan otoritas untuk melakukan intervensi. Langkah ini menyusul rekor intervensi mata uang yang dilakukan pemerintah Jepang dari akhir April hingga akhir Mei.

Sementara itu, indeks dolar AS menguat menyusul rilis data aktivitas manufaktur bulan Mei dari Institute for Supply Management (ISM) yang berekspansi secepat dalam empat tahun terakhir, dengan indikator biaya input produksi mendekati level tertinggi tahun 2022.

Kini, pelaku pasar mengalihkan perhatian pada rilis data ekonomi mendatang, termasuk laporan Non-Farm Payroll bulan Mei pada hari Jumat untuk melihat arah kebijakan moneter The Fed di bawah kepemimpinan gubernur baru, Kevin Warsh.

"Ada pandangan yang mulai berkembang bahwa pertumbuhan ekonomi AS bisa kembali berakselerasi seiring investasi AI yang mulai merembes ke sektor ekonomi yang lebih luas," tulis Chris Turner, head of foreign-exchange strategy di ING Bank, dalam catatannya pada hari Senin.

"Data minggu ini kemungkinan akan memperkuat narasi bahwa The Fed bisa lebih tenang dengan target lapangan kerja penuh mereka dan mulai fokus sepenuhnya pada risiko kenaikan inflasi."

Berikut adalah catatan pergerakan indeks saham pada pukul 09.45 waktu Tokyo:

  • Kontrak berjangka S&P 500 melemah 0,4 persen.
  • Kontrak berjangka Hang Seng menyusut 0,1 persen.
  • Indeks Topix Jepang merosot 1,1 persen.
  • Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 1 persen.
  • Kontrak berjangka Euro Stoxx 50 menguat 0,1 persen.

Kondisi Mata Uang dan Obligasi

Indeks Bloomberg Dollar Spot terpantau tidak mengalami perubahan signifikan. Mata uang euro bergerak stabil pada level US$1,1632, sedangkan yen Jepang berada di posisi 159,70 per dolar AS. Untuk yuan offshore dan dolar Australia masing-masing bertahan di angka 6,7643 per dolar AS dan US$0,7161.

Di pasar aset kripto, Bitcoin mencatatkan penurunan sebesar 0,4 persen menuju level US$71.074,51, dan Ether juga terkoreksi 0,4 persen ke harga US$1.995,45.

Pada pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bergerak stabil di level 4,46 persen. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun dan obligasi Australia tenor 10 tahun kompak mengalami kenaikan sebesar satu basis poin, masing-masing menjadi 2,690 persen dan 4,90 persen.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author