Bursa Saham Asia Bergerak Bervariasi Dipicu Volatilitas Wall Street
Bursa saham di Asia bersiap menghadapi pembukaan yang bervariasi pada perdagangan Jumat pagi. Kondisi ini terjadi setelah perdagangan yang bergejolak di Wall Street, seperti dikutip dari Bloombergtechnoz pada 26 Juni 2026.
Aksi jual baru pada saham-saham berkapitalisasi besar memangkas keuntungan yang sebelumnya ditopang oleh rilis data ekonomi Amerika Serikat yang tangguh.
Kontrak berjangka indeks saham untuk Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan terpantau bergerak turun. Sebaliknya, pasar saham Australia berpotensi mencatatkan penguatan.
Kontrak berjangka indeks saham AS bergerak stagnan setelah Wall Street menghapus reli awal. Sentimen tersebut sempat dipicu oleh proyeksi penjualan optimistis dari Micron Technology Inc.
Saham Apple Inc merosot 6,1 persen setelah perusahaan menaikkan harga perangkat Mac, iPad, dan lini produk rumahan lainnya. Langkah tersebut meredam antusiasme pasar terhadap kuatnya proyeksi emiten produsen chip.
Indeks Nasdaq 100 ditutup naik 0,8 persen. Indeks ini sempat melonjak hingga 2,1 persen di awal sesi.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah AS terpantau stabil pada Jumat pagi. Pada sesi sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 2 persen setelah sebuah kapal komersial dilaporkan diserang di Selat Hormuz.
Insiden ini membangkitkan kembali kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran di perairan vital tersebut. Di sisi lain, proses negosiasi damai antara AS dan Iran masih terus berjalan.
Rilis data ekonomi AS yang lebih baik dari perkiraan sempat mendongkrak sentimen risiko pasar secara luas. Hal ini memicu para pelaku pasar untuk mengurangi taruhan atas kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun ini.
Fluktuasi pasar baru-baru ini mempertegas meningkatnya kecemasan investor mengenai raksasa teknologi. Mereka ragu apakah sektor yang menggerakkan reli pasar saham selama hampir dua tahun terakhir dapat terus membenarkan valuasi saham yang sudah terlampau tinggi.
Kekhawatiran seputar belanja modal untuk teknologi AI telah mendorong pergerakan tajam pada saham-saham semikonduktor minggu ini. Meski kecemasan tersebut sempat mereda usai rilis kinerja Micron, tingkat volatilitas di sektor industri teknologi terpantau tetap tinggi.
"Beberapa celah mulai retak di sektor teknologi baru-baru ini," kata Matt Maley dari Miller Tabak.
"Oleh karena itu, kami percaya sangat penting untuk mengamati bagaimana pergerakan saham perusahaan komputasi skala besar (hyperscalers) ini ke depan. Jika mereka terus turun, akan sangat sulit bagi sektor pasar lainnya untuk bergerak maju."
Sebelumnya pada sesi perdagangan AS, sentimen pasar didukung oleh data yang menunjukkan belanja konsumen Amerika meningkat pada Mei. Peningkatan terjadi meskipun harga-harga naik pada laju tercepat dalam lebih dari tiga tahun, yang menunjukkan rumah tangga masih mampu menghadapi dampak ekonomi dari perang Iran.
Indikator inflasi pilihan The Fed, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), naik 0,4% pada Mei. Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan median ekonom sebesar 0,5%.
Secara tahunan, inflasi meningkat menjadi 4,1%. Nilai tersebut berada jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Meski data tersebut kemungkinan akan membuat The Fed tetap berada di bawah tekanan untuk mempertahankan suku bunga pada level tinggi, penurunan harga energi belakangan ini diperkirakan dapat membantu meredakan tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Kontrak swap kini memperkirakan total kenaikan sekitar 34 basis poin hingga Desember, turun dari sekitar 36 basis poin sehari sebelumnya.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor pendek juga menurun. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada bulan depan turun menjadi sekitar sepertiga.
"Tekanan terburuk dari inflasi dan kekhawatiran konsumen kemungkinan besar sudah mulai berlalu," kata Brian Jacobsen dari Annex Wealth Management.
"Selama harga bensin terus menurun, ekspektasi inflasi kemungkinan akan ikut mereda."
Di sisi lain, OpenAI disebut cenderung menunda rencana penawaran saham perdana (IPO) hingga 2027, menurut laporan The New York Times yang mengutip tiga sumber yang mengetahui pembahasan internal perusahaan.
Di pasar komoditas, harga emas kembali menguat seiring pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga. Sementara itu, harga perak naik 0,8% menjadi US$57,8586 per ons, disusul kenaikan logam mulia lainnya seperti paladium dan platinum.