Bumi Resources Ubah Pengurus dan Rencanakan Alokasi Modal Usaha
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) memutuskan tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2025 dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta demi mengalokasikan modal pada pengembangan dan diversifikasi usaha. Dilansir dari Liputan6.com, keputusan tersebut diambil bersamaan dengan pengesahan laporan keuangan auditan 2025 yang mendapat opini wajar tanpa pengecualian dari Kantor Akuntan Publik Amir Abadi Jusuf, Aryanto, Mawar dan Rekan. Selain menahan dividen, emiten batu bara ini juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi, termasuk menunjuk Sharif Cicip Sutardjo sebagai Presiden Komisaris dan Adika Nuraga Bakrie selaku Presiden Direktur.
Rapat tersebut turut menerima laporan sisa dana emisi Obligasi Berkelanjutan I BUMI per 31 Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp980,8 miliar dari total nilai penawaran mencapai Rp5 triliun.
Di pasar modal, saham BUMI mengalami tekanan jual masif oleh investor asing dengan catatan transaksi jual bersih mencapai Rp553,3 milar sepanjang periode 15-19 Juni 2026. Menurut data Stockbit Sekuritas yang dikutip Suara.com, nilai pelepasan itu menempatkan BUMI di posisi ketiga volume net sell asing terbesar di bawah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk dan PT Amman Mineral Internasional Tbk.
Meski dilepas asing, saham BUMI bertengger di level Rp168 per lembar pada Jumat (19/6/2026), yang berarti melonjak hingga 7 persen dalam kalkulasi perdagangan mingguan. Samuel Sekuritas Indonesia menilai emiten berbasis komoditas dengan pendapatan dolar AS seperti BUMI tetap prospektif karena sektor ini telah berada di dekat titik terendah didukung regulasi domestik yang kondusif.
“Untuk saham emiten logam dan batu bara berbasis pendapatan dolar AS, pilihan utama kami adalah Antam (ANTM), Amman Mineral Internasional (AMMN), Bumi Resources (BUMI), dan Timah (TINS),” ulas Prasetya Gunadi, Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia dalam laporan risetnya. Kondisi eksternal perusahaan juga diperkuat oleh kebijakan pemerintah yang merealisasikan penambahan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan pada semester II-2026. BUMI yang awalnya berdiri pada 1973 sebagai perusahaan perhotelan PT Bumi Modern, saat ini telah menguasai anak usaha besar seperti Kaltim Prima Coal dan Arutmin Indonesia dengan Mach Energy sebagai pemilik saham terbesar mencapai 45,78 persen.