BPS Proyeksikan Produksi Beras Nasional Turun Jadi 21,95 Juta Ton
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras nasional sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai 21,95 juta ton, mengalami penurunan sebesar 0,08 juta ton atau 0,35 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Data penurunan komoditas pangan ini dilansir dari Detik Finance pada Selasa (2/6/2026).
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini mengumumkan estimasi tersebut di Jakarta. Menurut data instansi, luas panen padi sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini sebenarnya diperkirakan naik 0,02 persen atau seluas 0,001 juta hektar hingga mencapai total 7,20 juta hektare.
Meski luas lahan panen meningkat, potensi hasil akhir pertanian dilaporkan masih sangat dinamis. BPS mencatat angka potensi ini dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi riil pertanaman padi sepanjang Mei hingga Juli 2026.
"Produksi beras sepanjang Januari hingga Juli 2026 diperkirakan mencapai 21,95 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 0,08 juta ton atau 0,35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025," ujar Pudji Ismartini, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS.
Penurunan performa sektor pangan ini juga tercermin dari hasil panen bulanan sebelumnya. Produksi padi pada April 2026 tercatat sebesar 7,63 juta ton gabah kering giling (GKG), angka yang merosot hingga 16,03 persen jika dikomparasikan dengan April 2023 yang menembus 9,09 juta ton GKG.
Tren penyusutan pasokan pangan diperkirakan masih berlanjut pada kuartal kedua tahun ini. Untuk periode Mei hingga Juli 2026, produksi padi diproyeksikan hanya menyentuh 13,75 juta ton GKG, terjadi penurunan sebesar 0,16 juta ton GKG atau 1,14 persen dari tahun sebelumnya.
"Sejalan dengan gambaran produksi padi, produksi setara beras untuk konsumsi pangan masyarakat pada April 2026 adalah sebesar 4,40 juta ton atau mengalami penurunan sebesar 16,00% dibandingkan dengan April 2025 yang sebesar 5,23 juta ton," tambah Pudji Ismartini, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS.
Terkait pemetaan wilayah, BPS memaparkan bahwa sentra panen saat ini masih didominasi di Pulau Jawa, meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten. Sebaran wilayah potensial lain berada di Sumatera, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, serta Kepulauan Nusa Tenggara.
Faktor alam dan ketepatan masa panen menjadi variabel utama yang terus dipantau pemerintah di lapangan. Fluktuasi angka perkiraan komoditas pokok ini sangat bergantung pada mitigasi risiko bencana alam serta manajemen hama oleh para petani di berbagai daerah.
"Angka potensi luas panen ini dapat berubah sesuai kondisi terkini hasil amatan lapangannya nanti, seperti serangan hama, kemudian banjir, kekeringan, waktu realisasi panen petani," jelas Pudji Ismartini, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS.