BPS Catat Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen Kuartal II 2026

Share

Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan atau year on year dalam konferensi pers di Kantor BPS Jakarta, Rabu (5/8/2026). Capaian tersebut ditopang oleh lima sektor utama yang menyumbang porsi terbesar terhadap produk domestik bruto.

Sektor-sektor yang menjadi penopang utama perekonomian nasional meliputi industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi, serta pertambangan. Gabungan dari kelima lapangan usaha tersebut memberikan kontribusi mayoritas terhadap total PDB nasional.

"Lapangan usaha pertama yang memberikan kontribusi besar kepada PDB adalah industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan. Total kelima lapangan tersebut mencakup sekitar 63,73% dari total PDB Indonesia," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Edy Mahmud.

Selain lima sektor utama tersebut, BPS mencatat lonjakan pertumbuhan yang signifikan pada sektor pengadaan listrik dan gas. Peningkatan pesat pada sektor ini dipicu oleh tingginya konsumsi energi di berbagai kalangan masyarakat hingga dunia usaha.

"Peningkatan ini disebabkan peningkatan penjualan listrik semua segmen konsumen, utamanya rumah tangga, bisnis dan industri," katanya.

Di sisi lain, perluasan program Makan Bergizi Gratis turut mendorong geliat bisnis penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman. Sektor ini mencatatkan laju pertumbuhan tinggi bersamaan dengan peningkatkan tingkat hunian hotel dan layanan katering.

Sektor informasi dan komunikasi juga merekam kinerja positif berkat perluasan pemanfaatan teknologi di berbagai bidang penunjang masyarakat.

"Informasi dan komunikasi tumbuh 6,97% ditopang oleh semakin luasnya pemanfaatan jasa telekomunikasi di berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan dan perdagangan, dan lainnya," tambahnya.

Berbeda dengan sektor lainnya, lapangan usaha pertambangan justru mengalami kontraksi sebesar 1,64 persen. Penurunan kinerja ini disebabkan oleh merosotnya produksi sejumlah komoditas utama seperti bijih bauksit, timah, dan nikel, di mana pertambangan biji logam terkontraksi hingga 9,42 persen.

Faktor operasional di fasilitas tambang besar juga menjadi pemicu tertahannya kinerja sektor ekstraktif tersebut sepanjang periode ini.

"Selain itu belum pulihnya operasi tambang bawah tanah di Grasberg di provinsi Papua Tengah pasca insiden longsor pada September 2025," ungkapnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: bps ekonomi indonesia pdb
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author