Bisnis Izakaya di Jepang Menghadapi Gelombang Kebangkrutan Tertinggi
Bisnis kedai minum tradisional Jepang atau izakaya saat ini tengah menghadapi ancaman kelangsungan usaha yang serius. Tempat berkumpul santai setelah pulang kerja tersebut dilaporkan mengalami gelombang penutupan usaha tertinggi dalam hampir 40 tahun terakhir.
Seperti dilansir dari Detik Food, data dari lembaga riset Tokyo Shoko Research mengungkapkan sebanyak 88 izakaya di Jepang gulung tikar sepanjang Januari hingga April 2026. Semua pelaku usaha yang terdata tersebut memiliki kewajiban utang minimal mencapai 10 juta yen atau sekitar Rp 1,1 miliar.
Angka kebangkrutan ini mencatat lonjakan sebesar 54,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Lonjakan tersebut sekaligus menjadi rekor tertinggi sejak pengumpulan data pertama kali dilakukan pada tahun 1989.
Industri kuliner izakaya semakin sulit bertahan akibat himpitan tekanan ekonomi serta pergeseran gaya hidup masyarakat setempat. Padahal, kedai ini merupakan elemen penting dalam kebudayaan kuliner Jepang yang menyajikan hidangan pendamping seperti yakitori, sashimi, dan onigiri panggang.
Saat ini, Jepang tengah dilanda laju inflasi tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Lonjakan harga bahan baku makanan, tarif listrik, dan biaya utilitas lainnya membuat pengeluaran operasional restoran membengkak secara signifikan.
Sejumlah pengelola kedai berupaya menyiasati kondisi ini dengan memperkecil ukuran porsi hidangan, beralih ke bahan baku alternatif yang lebih terjangkau, atau menaikkan harga pada menu. Namun, langkah ini berbenturan dengan sikap konsumen Jepang yang kini jauh lebih selektif dalam membelanjakan uang untuk makan di luar rumah.
Perubahan Pola Kerja dan Pergeseran Konsumen
Paket makan dan minum sepuasnya berdurasi 90 hingga 120 menit yang menjadi daya tarik utama izakaya kini harganya semakin melambung. Menu paket tersebut banyak yang dibanderol di atas 5.000 yen atau berkisar Rp 560 ribu, sebuah nominal yang dianggap terlampau mahal oleh sebagian pelanggan.
Faktor lain yang memperparah situasi adalah perubahan sistem kerja masyarakat pascapandemi. Kebiasaan berkumpul di kedai selepas jam kantor kini terus menyusut karena meluasnya penerapan sistem kerja jarak jauh atau remote kerja, sehingga para pekerja memilih langsung pulang ke rumah.
Di sisi lain, kehadiran wisatawan mancanegara juga belum mampu mendongkrak pendapatan sektor ini secara signifikan. Banyak turis asing lebih memilih kuliner populer yang lebih praktis seperti ramen, sushi, atau kari Jepang dibandingkan masuk ke izakaya yang memiliki variasi menu lebih rumit.