Berani Backpacker Tegaskan Femas Kabur dan Bersembunyi di Korea
Peserta open trip asal Indonesia, Femas Yani Arianto, dipastikan sengaja kabur dan bersembunyi di Korea Selatan untuk menghindari proses penegakan hukum, bukannya hilang seperti yang beredar di masyarakat pada Selasa (21/7/2026), dilansir dari Detik Travel.
CEO Berani Backpacker, Fariz Ragil Ramadhani, menyampaikan klarifikasi tersebut guna meluruskan opini publik serta pemberitaan media sosial yang dinilai keliru mengenai status Femas.
Fariz menegaskan bahwa penandatanganan status sebagai orang hilang tidak tepat lantaran pihaknya mengantongi sejumlah bukti keberadaan Femas di Negeri Ginseng tersebut.
"Tapi saya juga ingin meluruskan informasi yang beredar. Femas ini bukan hilang. Dia meninggalkan rombongan secara sengaja dan diduga bersembunyi," kata Fariz, CEO Berani Backpacker.
Informasi mengenai keberadaan Femas terus dikumpulkan dari para warga negara Indonesia (WNI) di Korea Selatan dan diserahkan kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti.
"Kami juga punya dokumentasi, foto, dan informasi dari beberapa WNI di Korea Selatan yang mengarah pada keberadaannya. Karena itu, menurut saya lebih tepat jika ini dipahami sebagai kasus peserta yang meninggalkan rombongan dan berusaha menghindari proses penegakan hukum, bukan kasus orang hilang," ujar Fariz, CEO Berani Backpacker.
Seseorang yang benar-benar tersesat di luar negeri dinilai akan mencari bantuan ke perwakilan negara atau pihak berwajib, sedangkan Femas tidak pernah mendatangi KBRI di Seoul maupun kepolisian setempat.
"Kalau memang hilang, ngapain harus bekerja? Kalau memang hilang, kenapa dia tidak mencari bantuan atau melapor kepada KBRI maupun kepolisian?" ujar Fariz, CEO Berani Backpacker.
Aparat kepolisian Korea Selatan sempat mendatangi area Masjid Ansan setelah menerima laporan lokasi Femas, namun yang bersangkutan sudah berpindah tempat.
"Dari informasi yang kami terima, aparat di Korea Selatan juga memiliki prosedur tersendiri. Mereka tidak bisa begitu saja melakukan penindakan di dalam rumah ibadah, sehingga prosesnya memang tidak semudah yang dibayangkan," kata Fariz, CEO Berani Backpacker.
Pihak penyelenggara kini menghentikan pencarian mandiri dan menyerahkan seluruh penanganan kasus ini sepenuhnya kepada otoritas hukum di Korea Selatan.
"Kami tinggal menyerahkan prosesnya kepada pihak-pihak yang memang memiliki kewenangan di Korea Selatan. Kami berharap Femas segera kembali ke Indonesia agar persoalan ini bisa segera selesai," kata Fariz, CEO Berani Backpacker.