Belanja Konsumen Amerika Serikat Meningkat di Tengah Lonjakan Inflasi
Aktivitas belanja konsumen di Amerika Serikat mengalami akselerasi pada Mei 2026 meskipun laju inflasi melonjak ke tingkat tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan indeks pengeluaran konsumsi pribadi tersebut merefleksikan ketahanan daya beli masyarakat di tengah tekanan geopolitik dengan Iran.
Data Biro Analisis Ekonomi (BEA) yang dirilis pada Kamis (25/6) menunjukkan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) melonjak 4,1 persen secara tahunan, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Inflasi inti AS yang mengecualikan sektor pangan dan energi juga naik 3,4 persen, sementara belanja riil konsumen masih mampu tumbuh sebesar 0,3 persen setelah sempat stagnan.
Akselerasi angka penanda inflasi ini diproyeksikan memicu tekanan bagi Bank Sentral AS atau Federal Reserve untuk mengerek kembali suku bunga acuan tahun ini. Meskipun harga minyak mentah mulai mereda pasca-negosiasi damai, efek domino guncangan sektor energi diprediksi para ekonom masih akan membayangi rantai pasok produk eceran.
Situasi tersebut mendapatkan perhatian dari Kepala Ekonom RSM US yang menganalisis pergerakan harga komoditas eceran ke depan.
"Dengan penurunan tajam harga minyak, sangat mungkin inflasi mencapai puncaknya pada Mei," kata Kepala Ekonom RSM US, Joe Brusuelas.
Meskipun demikian, sektor inflasi inti dinilai masih akan sulit melandai karena tingginya tekanan harga di berbagai industri. Daya beli warga sejauh ini tertopang oleh pengembalian pajak, penguatan pasar tenaga kerja, serta kenaikan harga saham, meski pertumbuhan upah riil belum sepenuhnya mengimbangi inflasi.
Berdasarkan data BEA, pendapatan pribadi sebelum penyesuaian inflasi naik 0,7 persen pada Mei, sedangkan upah dan gaji tumbuh 0,4 persen. Pendapatan siap dibelanjakan setelah inflasi juga meningkat 0,3 persen, namun tingkat tabungan masyarakat merosot ke posisi 3 persen yang merupakan level terendah sejak tahun 2022.
Di sisi lain, revisi Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama menunjukkan ekonomi AS tumbuh dengan laju tahunan sebesar 2,1 persen karena penurunan impor. Sebaliknya, pertumbuhan belanja konsumen justru direvisi turun menjadi 0,5 persen dari estimasi awal 1,4 persen, mencatatkan pertumbuhan kuartalan paling mini dalam empat tahun.
Perubahan perilaku belanja akibat tekanan harga energi dan komoditas ini dikonfirmasi langsung oleh pelaku industri ritel besar.
"Ini masih konsumen yang sehat, tetapi kondisi makroekonomi secara keseluruhan membuat mereka sedikit lebih berhati-hati," kata Chief Executive Officer Lowe’s, Marvin Ellison.
Pihak Lowe’s Cos mencatat pelanggan mulai menunda pembelian barang bernilai besar, sementara Kroger Co melaporkan konsumen lebih aktif mencari diskon belanja. Data pelengkap dari otoritas setempat menunjukkan klaim awal tunjangan pengangguran pekan lalu turun 12.000 menjadi 215.000, sedangkan pesanan barang tahan lama terkontraksi 4,5 persen pada Mei.