Beda Ube dan Ubi Jalar serta Manfaatnya bagi Kesehatan Hormon
Tren kuliner olahan ube (Dioscorea alata) sedang populer di media sosial dan diminati banyak pencinta makanan. Kepopuleran ube membuat publik kerap membandingkannya dengan ubi jalar ungu (Ipomoea batatas) terkait kandungan gizi serta manfaatnya.
Ubi jalar diketahui memiliki kandungan beta karoten serta vitamin A yang mendukung kesehatan reproduksi. Hal ini memicu pertanyaan mengenai apakah ube memiliki fungsi dan nutrisi yang sama.
Dilansir dari Detik Health, praktisi kesehatan dr. Arini Astasari Widodo, SpDVE menegaskan bahwa ube dan ubi jalar merupakan dua jenis tanaman yang berbeda meski tampilannya mirip. Oleh karena itu, profil nutrisi dari kedua bahan pangan tersebut juga tidak sama.
Dr. Arini menjelaskan bahwa ube memang belum terbukti secara signifikan dapat mengobati gangguan reproduksi. Namun, bahan pangan ini memiliki manfaat bagi hormon, khususnya dalam membantu meringankan gejala menopause.
"Menariknya, Dioscorea alata memang pernah diteliti pada perempuan menopause. Sebuah randomized controlled trial kecil menemukan perbaikan gejala menopause setelah pemberian ekstrak Dioscorea alata," ujar dr. Arini.
Penelitian terhadap ube juga telah dilakukan pada kelompok perempuan postmenopause. "Hasilnya menunjukkan perubahan beberapa parameter hormon," jelasnya.
Kendati demikian, dr. Arini menyampaikan belum ada bukti uji klinis yang mendukung efek spesifik ube untuk kesehatan reproduksi lainnya. Ia menyarankan masyarakat untuk berkonsultasi dengan ahli medis jika mengalami masalah kesehatan reproduksi yang serius.
"Silakan dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehat karena mengandung serat dan berbagai fitonutrien, tetapi jangan mengharapkan efek spesifik seperti 'makan ube untuk memutihkan vagina' atau 'mengatasi vaginal dryness'," seru dr. Arini.
Manfaat hormonal dari ube dapat diperoleh secara maksimal apabila dikonsumsi dalam bentuk utuh melalui proses kukus, rebus, atau panggang. Sebaliknya, olahan ube viral yang ditambah banyak gula, mentega, atau krimer dapat merusak profil nutrisinya sekaligus memicu peradangan dalam tubuh.