BCA Siapkan Program Pengembangan Desa Wisata Patak Banteng Dieng
PT Bank Central Asia Tbk melalui program CSR Bakti BCA tengah merencanakan tiga fase program pembinaan di Desa Wisata Patak Banteng, Dieng, Jawa Tengah, guna mengatasi masalah konservasi lingkungan serta penurunan minat regenerasi petani di kalangan pemuda setempat pada Kamis (11/6/2026).
Langkah pembinaan ini diambil menyusul kekhawatiran warga lokal terkait penyusutan mata air akibat alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian yang berlangsung sejak krisis ekonomi 1997-1998, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
“Gunung-gunung dijajah petani yang rata-rata orang tua kita sendiri, sehingga beralih fungsi menjadi lahan pertanian. Hal tersebut membuat mata air dan ekosistem berkurang,” kata Solichun, salah satu ketua Desa Wisata di Dieng.
Kondisi ekosistem yang menurun mendorong gerakan pemuda lokal untuk beralih mengembangkan sektor pariwisata. Upaya koordinasi dengan dinas terkait berhasil membawa desa ini meraih juara satu kategori resiliensi berkat sertifikasi para pengelolanya.
”Kalau soal tantangan, karena dalam mengembangkan wisata terlalu asik, teman-teman muda di desa saat ini kurang semangat untuk menjadi petani. Kita ingin mengembangkan argowisata di mana teman-teman bisa belajar menanam hingga panen. Selain itu, terkait konservasi ada rumah bibit yang ingin dikembangkan. Serta beberapa rangka pemulihan seperti bersih-bersih gunung, penanaman pohon dan pembagusan jalur,” ujar Solichun.
Sektor pariwisata ini terbukti mendongkrak ekonomi warga secara signifikan, mulai dari penyedia jasa ojek pendakian hingga pelaku UMKM produk lokal seperti carica, purwaceng, dan kentang.
“Untuk itu, dengan adanya bimbingan program BCA bisa meningkatkan semangat teman-teman muda bertani lagi,” tambah Solichun.
Keberadaan desa wisata ini melahirkan lapangan kerja baru yang masif. Salah satunya adalah operasional lebih dari 100 pengemudi ojek yang melayani para pendaki gunung.
“Para gojek ada 100 orang lebih terlibat. Mereka bahkan ada yang bisa mengantarkan sampe 50 kali saat akhir pekan,” ungkap Solichun.
Sistem kerja penyedia jasa transportasi di kawasan ini diatur menggunakan jadwal bergilir demi menjaga keadilan pendapatan antarwarga.
“Lumayan lah mbak, saya sudah melakukan pekerjaan ini 5 tahun. Dan enaknya di sini di jadwal, jadi semua dapat giliran,” tambah Andre, salah satu pemotor.
Dampak ekonomi pariwisata juga menyentuh sektor perdagangan. Warung-warung di area pangkalan pendakian kini beroperasi penuh selama 24 jam untuk melayani pengunjung.
“Warung-warung depan basecamp pendakian pada buka 24 jam. Kalau secara industri, pengelolaan buah carica, purwaceng dan kentang di kembangkan di desa Patak Banteng sehingga dapat menopang desa kami,” tambah Solichun.
Merespons situasi tersebut, pihak CSR Bakti BCA menyusun strategi intervensi melalui tiga tahapan pendampingan terstruktur agar pengelolaan desa semakin mandiri.
“Fase pertama adalah design; di mana akan membantu menguatkan destinasi wisata lebih terstruktur, tangguh dan lebih menantang,” kata Nona Faletta, Vice President CSR BCA.
Fase kedua yang dinamakan enabler akan difokuskan pada pemetaan kekurangan wilayah guna melakukan perbaikan komprehensif.
“Dari SDM dan perluasan akses dan penguatan kelembagaan,” tambah Nona Faletta.
Fase terakhir atau tahap sustain dirancang sebagai ruang pembuktian bagi kapasitas tata kelola mandiri masyarakat lokal tanpa ketergantungan pada pihak luar.
“Apakah ilmu terserap baik dan dipraktikan,” tambah Nona Faletta.