Bank Indonesia Jaga Stabilitas Rupiah Melalui Bauran Kebijakan Moneter
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mempertahankan suku bunga acuan dan memperkuat koordinasi kebijakan fiskal bersama pemerintah demi mengantisipasi volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang sempat menyentuh level Rp18.000 pada perdagangan 6 Juli 2026.
Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian ekonomi global serta sinyal hawkish dari Bank Sentral AS. Selain mempertahankan suku bunga, Bank Indonesia menaikkan nilai remunerasi atas dana pemerintah di bank sentral menjadi di atas BI Rate guna mengompensasi beban bunga akibat kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara.
Sinergi moneter dipadukan dengan kebijakan fiskal pemerintah yang memproyeksikan defisit APBN hingga Mei 2026 sebesar 0,7 persen PDB, perpanjangan penempatan dana perbankan Rp281 triliun, serta tambahan likuiditas Rp100 triliun untuk dunia usaha.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad menilai penyelarasan lintas lembaga sangat krusial bagi ketahanan ekonomi nasional domestik agar tetap terukur.
"Hari ini kami mengadakan rapat koordinasi untuk pertumbuhan ekonomi sekaligus juga rapat untuk mitigasi beberapa hal yang terjadi belakangan ini," ujar Dasco.
Dalam forum yang sama, Dewan Ekonomi Nasional menyoroti tekanan harga minyak bumi dunia yang mulai memengaruhi daya beli masyarakat Indonesia secara makro.
"Yang paling penting adalah menjaga stabilitas makroekonomi dalam jangka pendek karena dampak ketidakpastian global sudah mulai terasa terhadap inflasi dan daya beli masyarakat," katanya.
Kondisi pasar keuangan dinilai merespons positif kenaikan BI Rate ke level 5,75 persen melalui catatan aliran modal masuk asing.
Hingga 26 Juni 2026, arus modal masuk ke instrumen Surat Berharga Negara serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia menyentuh angka 9 miliar dolar AS disertai ekspansi operasi moneter hingga Rp1.000 triliun.
Di sisi lain, gejolak indeks dolar AS terus dipengaruhi oleh dinamika internal komite kebijakan moneter Amerika Serikat.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan bahwa Federal Open Market Committee memutuskan untuk menahan suku bunga federal funds pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen per 17 Juni lalu.
"Jadi, sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini, yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik," ujar Ramdan.
Tekanan dari indeks dolar AS tersebut memicu fluktuasi tajam pada pergerakan nilai tukar mata uang domestik di pasar valas.
"(Dalam) 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan bahkan akhir tahun itu kan perkembangannya tidak statis. Perkembangannya lebih dinamis. Oleh sebab itu yang saya sampaikan tadi bahwa Bank Indonesia All Out akan terus berada di pasar untuk memberikan jaminan bahwa Rupiah itu tetap akan stabil dan secara perlahan kita akan membuat Rupiah itu membangun," tambah Ramdan.
Guna meredam volatilitas, Bank Indonesia mengonfirmasi komitmen intervensi aktif 24 jam melalui instrumen pasar spot, Non-Deliverable Forward, serta Domestic Non-Deliverable Forward.