Bank Indonesia Evaluasi Potensi Kenaikan Suku Bunga Acuan Selanjutnya
Bank Indonesia terus mengevaluasi potensi kenaikan suku bunga acuan BI Rate demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, menyusul langkah intervensi moneter tidak lazim di luar jadwal rapat bulanan, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Rabu (10/6/2026).
Evaluasi berkala ini dilakukan menjelang pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan berlangsung pada 17 hingga 18 Juni 2026 mendatang. Pengetatan kebijakan moneter diambil sebagai respons atas tingginya gejolak global akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.
Langkah tak biasa diambil otoritas moneter dengan mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke level 5,5% pada Selasa (9/6/2026). Kenaikan juga berlaku untuk suku bunga Deposit Facility menjadi 4,5% serta Lending Facility menjadi 6,25%.
Pernyataan terkait langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda ini dikonfirmasi langsung oleh pihak manajemen bank sentral di hadapan legislatif.
"Kita akan evaluasi langkah selanjutnya dalam rangka menstabilkan nilai tukar rupiah," kata Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Bank Indonesia.
Kebijakan pengetatan ini dinilai memberikan dampak instan, terbukti dengan penguatan rupiah sebesar 0,79% ke posisi Rp17.918/US$ pada pembukaan perdagangan Rabu (10/6/2026). Nilai tukar kemudian bergerak ke posisi Rp17.949/US$ dengan apresiasi 0,61% pada pukul 09:12 WIB.
Sebelumnya, dalam keterangan tertulis yang dirilis pada hari terjadinya kenaikan suku bunga, otoritas moneter menegaskan bahwa intervensi ini krusial untuk membendung dampak ketidakpastian eksternal.
"Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah," papar Denny, Direktur Eksekutif Bank Indonesia.
Selain menaikkan BI Rate, bank sentral juga menerapkan strategi lain berupa peningkatan imbal hasil di pasar Surat Berharga Negara. Upaya pengetatan moneter ini dilakukan guna memperkuat posisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat secara berkelanjutan.
Sebelum kepastian evaluasi diungkapkan oleh jajarannya, pimpinan tertinggi bank sentral masih menutup rapat informasi mengenai arah kebijakan suku bunga untuk pekan depan.
"Tunggu minggu depan ya," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.