Bank Indonesia Catat Indeks Penjualan Riil April 2026 Melambat Jadi 226,9
Data Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) menunjukkan adanya perlambatan konsumsi pada perekonomian domestik. Kondisi ini dinilai sebagai fase normalisasi aktivitas ekonomi masyarakat dan bukan merupakan tanda terjadinya kontraksi maupun krisis keuangan.
Seperti dilansir dari Bloombergtechnoz, kualitas pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang menjadi penopang utama ekonomi terpantau melemah. Sektor non-esensial mulai mengalami tekanan akibat masyarakat yang semakin selektif berbelanja, ditambah pelemahan rupiah yang meningkatkan ekspektasi inflasi.
Indikator Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat melambat menjadi 226,9 pada April 2026, setelah sebelumnya berada di posisi 256,7 pada Maret 2026. Bank Indonesia memproyeksikan penurunan masih berlanjut pada Mei 2026 dengan angka IPR mencapai 225.
Penurunan performa ini merefleksikan normalisasi yang tajam setelah terjadinya lonjakan konsumsi selama Ramadan dan Idul Fitri pada Maret lalu. Pelemahan pada April 2026 dipandang sebagai efek musiman yang biasa terjadi pasca-Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Meski demikian, pertumbuhan tahunan yang berada di zona negatif selama dua bulan berturut-turut mengindikasikan daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya. Data IPR April 2025 tercatat hanya terkontraksi 0,3%, sedangkan pada April 2026 pasca-Lebaran formulasinya merosot hingga 3,7%.
Kondisi pasar ini sejalan dengan penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), tekanan nilai tukar rupiah, serta perilaku belanja masyarakat yang selektif. Kelompok barang diskresioner seperti peralatan informasi dan komunikasi mengalami kontraksi paling dalam sebesar 26,4% pada April 2026.
Tekanan juga dirasakan oleh kelompok komoditas sandang yang terkontraksi 7%, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,8%. Namun, kelompok suku cadang masih tumbuh 14,7% secara tahunan pada April dan diprediksi naik menjadi 16,6% pada Mei 2026.
Kelompok perlengkapan rumah tangga juga tumbuh tipis 0,6% pada April 2026, dengan proyeksi meningkat menjadi 1,8% pada Mei 2026. Di sisi lain, pelaku usaha menunjukkan optimisme tinggi terhadap perbaikan konsumsi domestik pada semester II-2026.
Optimisme ini tecermin dari kenaikan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) tiga bulan ke depan pada April 2026 yang mencapai 138,3 dari posisi Maret sebesar 136,8. Untuk proyeksi enam bulan ke depan, IEP April 2026 melonjak ke angka 149,4 dibandingkan posisi Maret yang berada di level 137,8.
Tingkat keyakinan pelaku bisnis pada paruh kedua tahun ini tercatat hampir serupa dengan perolehan periode yang sama tahun lalu. Pada April 2025, IEP enam bulan ke depan berada di angka 149,3, sementara April 2026 stabil di posisi 149,4.
Perbaikan kinerja penjualan eceran pada Mei 2026 diperkirakan membuat kontraksi bulanan menyempit drastis menjadi 0,9% dari sebelumnya 11,6%. Pemulihan performa ini terjadi pada hampir seluruh sektor barang dagangan, terutama didorong oleh momentum keagamaan baru pada Mei.
Sektor peralatan informasi dan komunikasi berbalik tumbuh 2,2% secara bulanan dari kontraksi 9,4%. Perlengkapan rumah tangga lainnya juga bangkit menjadi tumbuh 2% dari kontraksi 5,9%, serta komoditas sandang tumbuh tipis 0,1% setelah sebelumnya terkontraksi hingga 23,0%.
Pelaku usaha terpantau tidak menunjukkan kepanikan terhadap inflasi jangka pendek di tengah tekanan kurs rupiah sepanjang April 2026. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) tiga bulan ke depan terpantau hanya naik tipis 0,2 poin menjadi 175,8 dari posisi Maret sebesar 175,6.
Rendahnya kenaikan IEH mengindikasikan tekanan inflasi impor akibat lonjakan harga minyak dunia belum sepenuhnya dibebankan kepada konsumen. Kondisi daya beli masyarakat yang sedang melemah turut membatasi ruang bagi produsen untuk menaikkan harga jual di pasar.