Bank Dunia Naikkan Status Ekonomi Vietnam dan Filipina

Share

Bank Dunia resmi menaikkan status Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah atas menyusul ekspansi ekonomi yang pesat di kedua negara tetangga Indonesia tersebut. Informasi kenaikan status ini dirilis oleh Bank Dunia pada Rabu (1/7/2026).

Kenaikan status tersebut dilansir dari Detik Finance yang mengutip laporan The Straits Times pada Jumat (3/7/2026). Melalui pemutakhiran ini, kawasan ASEAN kini memiliki lima negara dengan status berpendapatan menengah atas ke atas, mendampingi Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Berdasarkan catatan historis dari Bank Dunia, Vietnam telah berada di kelompok berpenghasilan menengah ke bawah sejak 2009. Sementara itu, Filipina menempati kategori tersebut sejak akhir dasawarsa 1980-an.

"Model pertumbuhan berbasis ekspor Vietnam dan ekspansi berbasis luas Filipina yang mencerminkan peningkatan di semua industri utama, bukan hanya peningkatan di satu sektor, tetapi pergeseran ekonomi secara keseluruhan," jelas Bank Dunia.

Secara teoretis, lonjakan peringkat ini diproyeksikan mampu memperkuat sentimen positif dan kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi kedua negara. Berdasarkan data tahun 2025, Pendapatan Nasional Bruto (PNB) per kapita Vietnam menyentuh angka US$ 4.970 atau setara Rp 89,28 juta, sedangkan Filipina mencapai US$ 4.850 atau sekitar Rp 87,12 juta.

Akumulasi pendapatan kedua negara ini sudah melampaui batas minimal kelompok pendapatan menengah atas yang dipatok Bank Dunia sebesar US$ 4.636 atau senilai Rp 82,28 juta. Vietnam kini menjadi salah satu motor pertumbuhan tercepat di Asia dengan target pertumbuhan dua digit pada 2026 melalui pembenahan iklim bisnis dan investasi infrastruktur.

Di sisi lain, Filipina menghadapi proyeksi yang lebih menantang sehingga memotong target pertumbuhan ekonomi periode 2026 hingga 2030 akibat imbas ketegangan geopolitik Timur Tengah dan dampak iklim El Nino.

"Terlepas dari guncangan global dan domestik, kami tanpa henti mengejar pertumbuhan inklusif, memperkuat fundamental, dan tetap berada di jalur yang benar dengan agenda pembangunan kami," kata Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina Arsenio Balisacan.

Perubahan status ini juga membawa konsekuensi fiskal karena akses kedua negara terhadap dana bantuan pembangunan internasional dengan bunga murah kini menjadi lebih terbatas. Filipina sebelumnya kerap memanfaatkan pinjaman lunak di bawah harga pasar tersebut untuk membiayai proyek infrastruktur, mitigasi bencana, hingga jaminan sosial.

"Intinya, semakin tinggi peringkat Anda dalam klasifikasi tersebut, semakin mandiri Anda dan mampu memenuhi kebutuhan serta sumber daya Anda sendiri sebagai sebuah negara, termasuk dari segi fiskal," kata Ruben Carlo Asuncion, kepala ekonom di Union Bank of the Philippines.

Selain pergeseran posisi Vietnam dan Filipina, Bank Dunia turut menaikkan status Yordania, Mikronesia, dan Sri Lanka ke dalam kelompok berpendapatan menengah atas. Sebaliknya, Togo mengalami reklasifikasi dari kategori pendapatan rendah menuju pendapatan menengah ke bawah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author