Bank Asing Tarik Dana Rp 11 Triliun dari Indonesia Bukan Karena Prabowo

Share

Tiga bank asing global memindahkan dana keuntungan sebesar Rp 11,5 triliun atau sekitar USD 640 juta dari Indonesia sejak tahun 2024 demi memenuhi kebutuhan kas kantor pusat mereka di New York dan London. Pemindahan modal ini memicu gejolak pada nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada akhir Juni 2026.

Pengamat Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik Agus M Maksum menyoroti pemberitaan Bloomberg pada tanggal 28 hingga 29 Juni 2026 yang mengaitkan penarikan modal tersebut dengan risiko kebijakan Presiden Prabowo Subianto.

"Satu judul Bloomberg, rupiah bergetar, IHSG merah dalam hitungan jam. Padahal Rp 11,5 triliun yang ditarik Citi, HSBC, StanChart cuma buat nombokin kas kantor pusat mereka di New York dan London. Yang krisis bukan Indonesia – yang krisis itu kepercayaan pada Bloomberg." kata Agus M Maksum, Pemerhati Ekonomi Konstitusi dan Kebijakan Publik.

Menurut Agus M Maksum, narasi tersebut dirancang agar pembaca awam percaya bahwa investor asing melarikan diri dari Indonesia karena takut pada kebijakan presiden baru, padahal penarikan kas terjadi karena strategi keuangan internal korporasi global.

Berdasarkan data laporan resmi, Citigroup tengah menjalankan program pembelian kembali atau buyback saham senilai USD 20 miliar yang diumumkan sejak Januari 2025. Bank tersebut juga memangkas 20.000 posisi kerja hingga tahun 2026 dengan biaya pesangon yang meningkat menjadi USD 600 juta pada 2025.

Sementara itu, HSBC di bawah kepemimpinan CEO Georges Elhedery menanggung biaya restrukturisasi dan pesangon sebesar USD 1,8 miliar sepanjang periode 2025-2026 demi efisiensi. HSBC juga menggelontorkan dana buyback senilai USD 2 miliar pada Februari 2025, diikuti USD 3 miliar pada April 2025, dan USD 3 miliar lagi pada Juli 2025.

Selain itu, Standard Chartered di bawah CEO Bill Winters menaikkan dividen tahunan sebesar 65 persen dari 37 sen menjadi 61 sen per saham pada 24 Februari 2026. Guna membiayai kebijakan tersebut, mereka menjalankan tiga gelombang buyback dengan total mencapai USD 4,3 miliar sejak awal 2025 hingga Februari 2026.

Proses divestasi unit bisnis ritel ketiga bank ini ke bank lokal di Indonesia sebenarnya telah dimulai sebelum pelantikan Prabowo Subianto. Citigroup menjual bisnis ritelnya ke UOB pada 2022, Standard Chartered ke Danamon pada 2023, dan HSBC menandatangani perjanjian penjualan ke OCBC pada 4 Mei 2026.

Terkait operasional perbankan ini, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Dian Ediana Rae menegaskan posisi regulator terhadap keputusan bisnis perbankan.

"keputusan kredit adalah keputusan bisnis bank sendiri, dan regulator tidak mencampuri proses itu." ujar Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author