Bakrie Brothers Bukukan Laba Bersih Rp 503 Miliar Sepanjang 2025
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berhasil membukukan lonjakan laba bersih sebesar 49,6 persen menjadi Rp 503 miliar sepanjang tahun 2025. Raihan positif emiten ini dilansir dari Detik Finance pada Sabtu (13/6/2026).
Pertumbuhan laba tersebut setara dengan kenaikan Rp 167 miliar dibandingkan perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp 336 miliar. Di sisi lain, pendapatan bersih perseroan tercatat sebesar Rp 3,74 triliun, atau mengalami penurunan 3 persen secara tahunan.
Sektor manufaktur melalui PT Bakrie Metal Industries Group menyumbang pendapatan terbesar senilai Rp 2,2 triliun. Disusul oleh PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk Group sebesar Rp 1,08 triliun dan PT Bakrie Indo Infrastructure Group sebesar Rp 464,21 miliar.
"Alhamdulillah, di tengah ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, volatilitas pasar energi, gangguan rantai pasokan, dan perlambatan pertumbuhan global serta fragmentasi perdagangan yang meningkat, Perseroan mampu mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2025," terang Direktur Utama & CEO BNBR, Anindya N. Bakrie.
Manajemen menegaskan komitmen perusahaan untuk mengoptimalkan daya tahan bisnis dalam menghadapi gejolak ekonomi makro dunia. Strategi adaptasi ini dinilai menjadi fondasi utama demi menjaga stabilitas kinerja usaha perseroan ke depan.
"Ke depan, kita fokus menggarap lini infrastruktur, baik fisik maupun digital. Sembari terus mengembangkan industri berkelanjutan di bidang kendaraan listrik dan energi hijau," kata Anindya N. Bakrie.
Sementara itu, pilar infrastruktur tol mencatatkan performa positif lewat pengelolaan Tol Cimanggis-Cibitung sepanjang 26,184 kilometer oleh PT Cimanggis Cibitung Tollways. Arus kendaraan harian di jalur tol tersebut menembus 40.888 unit, atau 3,38 persen melampaui target.
"Pendapatan rata-rata CCT saat ini sebesar Rp.2,3 miliar per hari, lebih tinggi hingga 4,87% dibanding target RKAP dan diproyeksikan akan terus meningkat seiring meningkatnya proyeksi traffic dan rencana kenaikan tarif pada tahun 2026," terang Wakil Direktur Utama & Co-CEO BNBR, A. Ardiansyah Bakrie.
Untuk sektor digital, PT Multi Kontrol Nusantara mencatatkan pendapatan Rp 358,9 milar yang bersumber dari proyek konektivitas internet pedesaan dan wilayah 3T. Perusahaan ini juga sukses merampungkan kabel serat optik sepanjang lebih dari 8.000 kilometer.
"MKN juga turut berkontribusi dalam implementasi layanan Internet of Things (IoT) di Pulau Jawa dan Kalimantan, serta mengembangkan aplikasi berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning untuk mempercepat tersedianya ekonomi digital yang lebih efisien dan produktif," tutur A. Ardiansyah Bakrie.
Pada segmen otomotif ramah lingkungan, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk mencatatkan penjualan 69 unit kendaraan listrik sepanjang 2025. Perusahaan kemudian mengirimkan lagi 30 unit bus listrik berukuran 12 meter kepada TransJakarta pada kuartal pertama 2026.
"Hingga kini, VKTR juga masih menjadi satu-satunya pemasok armada bus listrik TransJakarta yang dirakit di dalam negeri dan telah memenuhi ketentuan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40%," terang A. Ardiansyah Bakrie.
Ekspansi berlanjut ke sektor energi baru terbarukan melalui PT Helio Synar Energi yang membangun PLTS Atap serta fasilitas pengisian daya kendaraan listrik. Unit bisnis baru lainnya, PT Modula Tiga Dimensi, juga mulai mengomersialkan teknologi pencetakan konstruksi 3D.
"Modula telah berhasil menyelesaikan konstruksi Gedung Auditorium milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk di komplek pabrik mereka di Citeureup, Bogor, dan saat ini sedang menyelesaikan sebuah komplek Mes "Eco Village" di sebuah pabrik pipa baja di Lampung. Ini menjadi solusi alternatif dalam teknologi konstruksi bangunan dan menjadi pembuka bisnis baru di bidang ini menggunakan teknologi 3DCP yang cepat, advanced dan ramah lingkungan," terang A. Ardiansyah Bakrie.
Adapun pendapatan unit usaha komponen otomotif melalui PT Bakrie Autoparts tercatat mengantongi Rp 852,77 miliar pada tahun 2025. Mayoritas pendapatan operasional tersebut bersumber dari pasokan komponen OEM sebesar 87 persen dan industri pengecoran umum sebesar 13 persen.