Bahaya Mengancam Anak Jika Menggunakan Jajan Sebagai Hadiah Makan
Mengucapkan kalimat ancaman seperti menahan jajan agar anak mau menghabiskan makanan sering menjadi jalan pintas bagi sebagian orang tua. Kebiasaan tersebut sekilas ampuh memicu motivasi anak untuk makan. Namun, langkah ini membawa dampak buruk bagi psikologis dan pola makan anak dalam jangka panjang.
Seperti dilansir dari HaiBunda, mengaitkan ketersediaan makanan dengan imbalan uang atau jajan dapat memicu hubungan yang tidak sehat antara anak dan makanan sejak usia dini.
Pakar gizi Sally Kuzemchak menegaskan bahwa makanan penutup atau jajanan tidak boleh ditawarkan sebagai imbalan maupun ditahan sebagai bentuk hukuman. Tindakan ini membuat jenis makanan tertentu terasa sangat istimewa. Anak akan berpikir bahwa mereka wajib mengonsumsi makanan yang dianggap tidak enak demi memperoleh makanan yang lezat.
"Saat menyajikan makanan penutup, semua anggota keluarga harus diberi pilihan untuk memakannya, terlepas dari seberapa banyak mereka makan saat makan malam," kata Sally Kuzemchak.
Jika anak hanya menginginkan camilan dan menolak hidangan utama, Kuzemchak menyarankan agar camilan disajikan secara berkala. Orang tua juga dapat menyajikan jajanan secara bersamaan dengan menu utama makan malam.
"Jika anak hanya ingin mengonsumsi makanan penutup (jajanan) dan tidak mau makan makanan utama, jadikan makanan penutup sebagai suguhan sesekali. Kita juga bisa mencoba menyajikannya bersamaan dengan makan malam. Ide ini mungkin terdengar aneh, tetapi berhasil untuk beberapa anak," ujar Kuzemchak.
Pemicu Kebiasaan Makan Berlebihan pada Anak
Pandangan serupa disampaikan oleh David Ludwig, Direktur New Balance Foundation Obesity Prevention Center di Boston Children's Hospital sekaligus penulis buku Ending the Food Fight. Ludwig menekankan pentingnya menghindari ucapan yang mengondisikan makanan sebagai hadiah saat waktu makan berlangsung.
"Hindari mengatakan hal ini saat makan karena akan meningkatkan persepsi anak terhadap nilai jajanan dan mengurangi kenikmatan mereka terhadap makanan itu sendiri," kata David Ludwig.
Orang tua disarankan mengubah kalimat ancaman menjadi bentuk yang lebih positif, misalnya menyampaikan bahwa jajanan akan dinikmati setelah selesai mengonsumsi makanan utama.
Pendapat mengenai aturan menghabiskan isi piring atau Clean Plate Club kini dianggap kurang relevan. Ahli gizi Kacie Barnes menjelaskan bahwa kebutuhan kalori harian anak berubah-ubah, dan anak memiliki intuisi alami untuk mengenali rasa kenyang pada tubuh mereka.
"Orang-orang menganggap saya aneh ketika mengatakan bahwa anak-anak tidak perlu menghabiskan makan mereka untuk mendapatkan makanan penutup. Itu tidak bisa menjadi solusi yang logis bila tujuannya untuk membuat anak makan sesuai kebutuhan tubuhnya," tutur Kacie Barnes.
Memberikan syarat menghabiskan makanan demi mendapatkan camilan berisiko mendorong anak makan secara berlebihan. Kondisi ini memaksa anak mengabaikan sinyal kenyang dari tubuh mereka demi bisa menikmati camilan yang diinginkan.
"Hal utama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa jumlah makanan yang kita berikan kepada anak sebenarnya tidak terlalu penting, mungkin itu jumlah yang dibutuhkan tubuh mereka pada saat makan, atau mungkin juga sama sekali salah. Dan tentu saja bukan salah orang tua jika itu salah!" kata Barnes.
"Tetapi itulah mengapa anak perlu memutuskan sendiri berapa banyak yang ingin mereka makan atau tidak," ujar Barnes.
"Mereka harus mengabaikan apa yang dikatakan tubuh. Mereka sebenarnya tidak punya cukup ruang untuk semua itu, tetapi jika mereka benar-benar menginginkan (jajanan), mereka akan memakan makanan utama," tutur Barnes.
Peran orang tua berfokus pada penyediaan makanan bergizi. Keputusan mengenai porsi serta jumlah makanan yang masuk ke tubuh tetap perlu diserahkan penuh kepada anak.