Ibu Hamil Wajib Tahu 6 Bahan Skincare yang Harus Dihindari
Perubahan hormon selama masa kehamilan kerap memicu berbagai perubahan pada kondisi kulit. Selain faktor hormonal, sistem kardiovaskular hingga fungsi kekebalan tubuh yang berubah juga turut memberikan pengaruh besar.
Masalah kulit yang kerap muncul pada ibu hamil meliputi kulit kering, penggelapan warna kulit, hingga jerawat. Meski demikian, dilansir dari HaiBunda, tidak semua wanita hamil mengalami keluhan ini karena sebagian di antaranya tetap memiliki kulit normal.
Risiko perubahan kulit ini dapat meningkat jika ibu hamil memiliki riwayat kondisi medis tertentu. Beberapa kondisi yang memicu risiko lebih besar antara lain eksim, psoriasis, serta rosacea.
American Academy of Dermatology Association (AAD) menyatakan bahwa penggelapan kulit atau melasma sering kali muncul pada area wajah. Kondisi ini membuat banyak ibu hamil memilih menggunakan berbagai produk kecantikan untuk merawat diri.
Namun, zat yang terkandung dalam produk perawatan kulit dapat terserap ke dalam tubuh. Kandungan kimia tersebut berpotensi masuk ke dalam aliran darah dan memengaruhi perkembangan janin.
Sebagian besar produk yang dijual bebas (OTC) sebenarnya telah memenuhi standar keamanan khusus. Meskipun begitu, para wanita hamil tetap diminta untuk lebih teliti terhadap komposisi produk yang mereka gunakan.
Daftar Bahan Skincare yang Wajib Dihindari
Penelitian para ahli menemukan beberapa bahan aktif dalam kosmetik yang dapat memicu dampak buruk bagi kesehatan bayi. Berikut adalah beberapa kandungan yang harus dihindari menurut data dari Healthline:
1. Retinoid
Turunan vitamin A yang sering digunakan sebagai bahan anti-aging dan pengobat jerawat ini sangat tidak disarankan untuk ibu hamil. Paparan retinoid dosis tinggi terbukti meningkatkan risiko cacat lahir bawaan dan gangguan perkembangan otak anak.
2. Asam Salisilat Dosis Tinggi
Bahan ini efektif untuk mengatasi peradangan akibat jerawat. Namun, penggunaan asam salisilat dengan konsentrasi tinggi, seperti pada produk pengelupasan kulit (peeling), harus dihentikan selama masa kehamilan.
3. Hidrokuinon
Zat pencerah kulit ini dapat memicu iritasi dan penebalan kulit jika digunakan tanpa pengawasan dokter. Dokter terkadang meresepkan bahan ini untuk melasma dengan dosis yang sangat ketat demi menjaga keamanan ibu dan janin.
4. Ftalat
Bahan kimia jenis dietilftalat (DEP) sering ditemukan dalam kosmetik dan berperan sebagai pengganggu hormon endokrin. Riset menunjukkan bahwa paparan senyawa ini berpotensi mengganggu fungsi sistem reproduksi.
5. Formaldehida
Zat pengawet yang bersifat karsinogenik ini dapat memicu penyakit kanker serta mengganggu tingkat kesuburan. Ibu hamil harus mewaspadai senyawa pelepas formaldehida seperti bronopol dan DMDM hydantoin karena bisa memicu keguguran.
6. Chemical Sunscreen
Kandungan oksibenzon dalam tabir surya kimia berfungsi sebagai filter sinar ultraviolet. Namun, zat ini mendapat perhatian khusus karena dinilai dapat merusak keseimbangan hormon dalam tubuh.
Penerapan Rutinitas Perawatan Wajah yang Aman
Dokter spesialis kulit menyarankan wanita hamil untuk tetap menjaga kesehatan kulit dengan metode yang sederhana. Penerapan basic skincare menjadi pilihan paling aman untuk meminimalkan risiko paparan bahan kimia berbahaya.
Dokter spesialis kulit Shoshana Marmon, MD, PhD, FAAD, membagikan beberapa langkah perawatan mendasar yang aman bagi ibu hamil. Langkah pertama adalah membersihkan wajah maksimal dua kali sehari, terutama setelah beraktivitas atau berkeringat.
Langkah kedua adalah menggunakan pelembap secara rutin guna mengatasi kulit kering atau mengelupas. Langkah terakhir adalah melindungi kulit dari paparan matahari menggunakan pakaian berfilter UV dan tabir surya berspesifikasi minimal SPF 30.
Ibu hamil disarankan memilih jenis physical sunscreen yang mengandung mineral seperti zinc oxide atau titanium dioxide. Jenis tabir surya ini dinilai lebih lembut dan memiliki risiko iritasi yang jauh lebih rendah.