Aturan SNI Baru Dongkrak Penjualan BAJA Hingga Rp634,5 Miliar
PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) mencatatkan lonjakan penjualan bersih hingga 85,74 persen menjadi Rp634,54 miliar pada semester I-2026. Pencapaian berkat implementasi aturan Standar Nasional Indonesia (SNI) baru ini membalikkan posisi rugi menjadi laba bersih Rp21,33 miliar.
Kenaikan penjualan yang signifikan dari posisi Rp341,63 miliar pada periode sama tahun sebelumnya berhasil mendongkrak kinerja bottom line perseroan. Laba per saham dasar BAJA otomatis melonjak menjadi Rp11,85 dari sebelumnya minus Rp9,18.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, perbaikan kinerja dipicu oleh revisi aturan SNI atas produk galvalum dan pre-painted galvalum yang biasa digunakan untuk rangka serta atap bangunan.
"Implementasi SNI yang baru menyebabkan berkurangnya volume produk impor di pasar untuk sementara," kata Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk, Handaja Susanto dalam surat jawaban kepada BEI, Rabu (12/8/2026).
Guna memanfaatkan momentum ini, perseroan memfokuskan penjualan produk galvalum ke segmen proyek dan merilis varian pre-painted galvalum berteknologi cat spesifikasi tinggi.
"Hal utama dari keduanya adalah masuk ke segmen pasar yang lebih baik di mana spesifikasi produk dan kualitas lebih diutamakan dan tidak sensitif harga," katanya.
Manajemen memperkirakan lonjakan penjualan akan kembali normal usai para importir menyesuaikan diri dengan regulasi SNI. Saat ini, porsi produk baja impor masih menguasai 40 hingga 50 persen pasar nasional.
Secara rinci, beban pokok penjualan BAJA membengkak dari Rp332,64 miliar menjadi Rp584,07 miliar, sehingga laba kotor terkumpul Rp50,46 miliar. Total beban usaha perseroan berhasil ditekan menjadi Rp9,57 miliar dari sebelumnya Rp13,99 miliar, meski terbebani kerugian selisih kurs sebesar Rp13,2 miliar.
Hingga Juni 2026, total aset BAJA meningkat menjadi Rp769,44 miliar dengan jumlah ekuitas Rp42,67 miliar. Sementara itu, total liabilitas perseroan tercatat membengkak menjadi Rp726,76 miliar.
Lonjakan kinerja keuangan membuat harga saham BAJA meroket 126 persen dalam sebulan ke level Rp362 per saham hingga Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara perdagangan. Di samping menyiapkan rencana rights issue, BEI memasukkan BAJA ke dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) per 10 Agustus 2026 karena 93,89 persen sahamnya dikuasai pemegang saham tertentu.