Astronom Temukan Molekul Gula Organik di Pusat Galaksi Bima Sakti
Penemuan senyawa penting bagi kehidupan di hamparan luas antara bintang-bintang kini berhasil terdeteksi untuk pertama kalinya. Para astronom menemukan gula alami yang biasa terdapat dalam buah raspberry pada awan debu dan gas antarbintang.
Lokasi temuan molekul organik tersebut berada di area dekat pusat galaksi Bima Sakti. Penemuan ini dilansir dari Detikcom, berdasarkan pengamatan tim peneliti yang dipimpin oleh para astronom di Pusat Astrobiologi Spanyol.
Tim mendeteksi jenis gula bernama eritrosa yang tersusun dari empat atom karbon. Gula memegang fungsi krusial dalam sistem makhluk hidup, mulai dari penyedia energi, pembangun struktur biologis, hingga pembentuk materi genetik RNA dan DNA.
Guna menjalankan riset ini, tim ahli mengandalkan dua teleskop radio. Instrumen pertama berada di Observatorium Yebes yang terletak di utara Madrid, sementara teleskop kedua berada di Institut Astronomi Radio dalam Milimeter Range (IRAM) di Sierra Nevada, Spanyol Selatan.
Para ilmuwan memfokuskan studi pada awan molekuler bernama G+0.693−0.027 di dekat pusat galaksi. Identifikasi eritrosa dilakukan dengan mencocokkan tanda molekul pada data gelombang radio dari awan tersebut dengan pola panjang gelombang laboratorium.
Awalnya, tim mencari jenis gula yang lebih sederhana dengan tiga atom karbon, namun tidak membuahkan hasil.
"Temuan ini tidak terduga, karena pandangan yang berlaku dalam astrokimia adalah bahwa molekul antarbintang tumbuh ukurannya melalui penambahan atom karbon secara berurutan," kata Izaskun Jiménez-Serra, seorang astronom di Pusat Astrobiologi di Madrid dan Dewan Riset Nasional Spanyol, dalam sebuah pernyataan, dikutip dari CNN Science Minggu (19/7/2026).
"Penemuan kami menunjukkan gula yang relatif kompleks sudah dapat disintesis di ruang antarbintang, sebelum bintang dan planet lahir," ungkapnya.
Penelitian itu memperlihatkan bahwa eritrosa bisa terbentuk dari molekul sederhana pada butiran debu es ruang angkasa. Unsur tersebut kemudian berpotensi masuk ke dalam sistem kimia yang berstruktur lebih rumit.
Sejauh ini, ilmuwan telah mendeteksi lebih dari 340 molekul dalam gas dan materi ruang antarbintang Bima Sakti, tetapi belum pernah menemukan gula sebelum studi ini.
"Gula dan senyawa terkait gula telah ditemukan di asteroid, tetapi penemuan senyawa di ruang antarbintang ini memperkuat dugaan Tata Surya kita mungkin telah bertabur dengan senyawa organik yang sudah ada sebelumnya," kata Mark Sephton, seorang profesor di Departemen Ilmu Bumi dan Teknik di Imperial College London, yang tidak terlibat dalam penelitian ini kepada CNN Science.
Asal-Usul Senyawa Gula di Bumi
Proses awal terbentuknya molekul gula di Bumi telah lama menjadi teka-teki ilmiah. Berbagai eksperimen laboratorium menunjukkan molekul gula sulit terbentuk dalam kondisi ekstrem pada awal sejarah pembentukan Bumi.
Deteksi ribosa dan glukosa pada meteorit primitif serta sampel asteroid Bennu tahun 2020 menunjukkan indikasi senyawa tersebut berasal dari luar angkasa. Mark Sephton menyebut gula kemungkinan menyusup ke asteroid saat proses pembentukannya dan terkirim ke Bumi lewat meteorit.
Yoshihiro Furukawa, profesor di Departemen Ilmu Bumi Universitas Tohoku Jepang yang meneliti sampel asteroid Bennu, menyetujui komet dan debu asteroid dapat membawa gula ke planet-planet, meski proses kemunculan kehidupan masih misterius.
"Temuan ini sangat menarik, karena kami telah menunggu deteksi aktual seperti ini," katanya.
Estimasi peneliti menunjukkan sekitar 0,5 juta hingga 50 juta metrik ton gula ini jatuh ke Bumi selama periode Late Heavy Bombardment. Peristiwa tabrakan asteroid ke planet bagian dalam Tata Surya tersebut terjadi sekitar 4 miliar tahun lalu.
Kendati demikian, NASA menyatakan bahwa kepastian terjadinya peristiwa Late Heavy Bombardment tersebut masih menjadi ruang perdebatan ilmiah.
Secara praktis, eritrosa ditemukan dalam kadar sangat sedikit pada raspberry dan buah lainnya, serta kerap menjadi bahan kosmetik penggelap kulit karena reaksinya dengan lapisan kulit luar.
"Penemuan eritrosa sangat menarik karena membuka kemungkinan untuk menemukan gula lain di luar angkasa seperti ribosa, yang merupakan bagian dari RNA, dan molekul penting lainnya untuk asal-usul kehidupan," kata Carlos Briones, salah satu penulis studi dan peneliti evolusi molekuler di Dewan Riset Nasional Spanyol dan Pusat Astrobiologi, dalam sebuah pernyataan.