Astronaut Kellie Gerardi Bagikan Perjuangan IVF dan Keguguran hingga Lahirkan Rainbow Baby

Share

Menjadi seorang penjelajah antariksa tidak membuat seseorang terlepas dari tantangan kehidupan yang dihadapi banyak perempuan di bumi. Kisah emosional ini dialami oleh Kellie Gerardi, seorang astronaut sekaligus peneliti luar angkasa, yang secara terbuka membagikan perjuangannya untuk mendapatkan anak kedua melalui program fertilisasi in vitro (IVF) atau bayi tabung.

Seperti dikutip dari HaiBunda yang melansir NPR, Kellie Gerardi menceritakan pengalamannya menghadapi infertilitas sekunder dan keguguran yang terjadi berulang kali. Tantangan tersebut ia lalui di tengah persiapan padat untuk menjalani misi ke luar angkasa pada 2026.

Dari total lima kali kehamilan yang pernah dialami Kellie Gerardi, hanya kehamilan putri pertamanya, Delta, yang berhasil berjalan lancar hingga proses persalinan. Perjalanan untuk memberikan adik bagi Delta ternyata menjadi perjuangan yang jauh lebih berat dari dugaan awal.

Proses IVF tersebut dimulai pada akhir 2024 di sela-sela jadwal latihan astronaut yang intensif. Kellie Gerardi harus melewati rangkaian prosedur medis yang menguras fisik dan emosi, mulai dari penyuntikan hormon, pemantauan kesuburan, hingga pengambilan sel telur.

Dari seluruh rangkaian proses tersebut, tim medis hanya menemukan satu embrio yang dinyatakan layak untuk ditanamkan ke rahim. Harapan besar sempat muncul saat transfer embrio berhasil dan Kellie Gerardi dinyatakan positif hamil kembali.

Momen bahagia tersebut mendadak berubah menjadi kedukaan pada Februari, tepat sehari menjelang hari ulang tahunnya yang ke-36. Saat menjalani pemeriksaan ultrasonografi (USG) rutin pada usia kehamilan sembilan minggu, tim medis menyatakan bahwa detak jantung janin di dalam kandungannya sudah tidak terdengar.

"Saya pergi ke janji temu kelulusan saya, atau yang seharusnya menjadi janji temu kelulusan saya dari klinik IVF pada pemeriksaan sembilan minggu itu dan dalam janji temu itu saya hancur mendengar dokter dan perawat di ruangan itu memberi tahu saya bahwa tidak ada detak jantung," kata Kellie Gerardi.

Kehilangan janin menjadi salah satu titik paling kelam dalam hidupnya, namun Kellie Gerardi memilih untuk memulihkan diri secara perlahan dan kembali bangkit. Ia bersama keluarganya sepakat untuk mencoba kembali program kesuburan tersebut dengan tetap membagikan setiap perkembangannya secara jujur kepada publik.

"Tidak ada yang pernah dijamin dalam IVF," tutur Kellie Gerardi.

"Saya sadar bahwa ada kemungkinan besar hal yang sama akan terjadi lagi, yang akan sama menghancurkannya, atau transfer embrio tidak berhasil… apa pun itu. Saya tahu risikonya, dan saya tahu bahwa tidak ada yang pasti. Namun, saya masih membiarkan diri saya tetap berada dalam tingkat harapan, antusiasme, dan optimisme ini," kata Kellie Gerardi.

Melalui akun media sosial pribadinya, Kellie Gerardi secara rutin mengunggah dokumentasi perjalanan medisnya. Ia memperlihatkan realitas di balik program bayi tabung, termasuk rasa cemas saat menunggu hasil laboratorium hingga kesedihan mendalam setelah mengalami keguguran.

Langkah keterbukaan ini diambil karena ia menyadari banyak perempuan di luar sana yang memendam sendiri kesedihan akibat masalah infertilitas atau keguguran. Melalui unggahan tersebut, Kellie Gerardi ingin membangun ruang komunikasi agar para perempuan yang mengalami hal serupa tidak merasa berjuang sendirian.

"Hingga saat ini, saya telah hamil lima kali dan hanya Delta yang menjadi anak saya," ucap Kellie Gerardi.

"Ini adalah perjalanan yang berat dan ini adalah campuran infertilitas sekunder, di mana saya tahu bahwa saya mungkin bisa hamil dan membawa kehamilan hingga cukup bulan, tetapi mengalami periode waktu yang lama tidak bisa hamil, ketika saya hamil, mengalami keguguran yang sangat menghancurkan setiap kali," ujar Kellie Gerardi.

Akun media sosial Kellie Gerardi kini berkembang menjadi sebuah ruang komunitas bagi banyak orang yang sedang berjuang mendapatkan keturunan. Selain berbagi tentang riset antariksa mengenai cairan biomedis dan termodinamika, ia juga menyelipkan kehidupan sehari-harinya sebagai seorang ibu.

"Ada begitu banyak suka dan duka dalam proses [IVF]," tutur Kellie Gerardi.

"Pengambilan sel telur, itu adalah experience pertama saya. Dan saya rasa saya sedikit tidak siap secara emosional," kata Kellie Gerardi.

Kaitan Dunia Antariksa dengan Kesehatan Reproduksi Perempuan

Di samping kisah pribadinya, Kellie Gerardi menjelaskan bahwa sektor sains antariksa kini menaruh perhatian besar pada sektor kesehatan reproduksi perempuan. Para peneliti mulai aktif mempelajari dampak jangka panjang dari lingkungan luar angkasa terhadap tubuh manusia.

Beberapa hasil studi mengindikasikan bahwa tingkat paparan radiasi luar angkasa yang tinggi serta kondisi minim gravitasi dapat memengaruhi sistem reproduksi. Oleh sebab itu, topik mengenai kesehatan perempuan menjadi agenda krusial dalam misi penelitian antariksa modern.

Meskipun harus melewati latihan fisik astronaut yang berat dan menguras energi, Kellie Gerardi tetap berupaya menjaga keseimbangan kesehatan fisik dan mentalnya. Perjuangan panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil yang membahagiakan pada 2026.

Kellie Gerardi berhasil melahirkan anak keduanya dengan selamat yang kini sering disebut sebagai rainbow baby, sebuah istilah untuk bayi yang lahir setelah orang tua melewati masa duka akibat keguguran pada kehamilan sebelumnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author