Negara Asia Sambut Pembukaan Kembali Selat Hormuz

Share

Negara-negara di kawasan Asia menyambut baik kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz pada Senin (15/6/2026). Langkah ini diharapkan dapat memulihkan jalur pasokan energi utama yang krusial bagi kawasan dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia tersebut.

Respons positif langsung terlihat di pasar keuangan regional tak lama setelah pengumuman tersebut dilakukan. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Bloombergtechnoz, pergerakan positif ini ditandai dengan menguatnya bursa saham, kemerosotan harga minyak dunia, serta jatuhnya nilai obligasi dalam perdagangan di Asia.

Kendati demikian, sejumlah pemimpin dan pejabat di wilayah Asia Pasifik langsung memberikan catatan terkait perkembangan situasi terbaru ini. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyebut kesepakatan tersebut sebagai sebuah langkah besar menuju navigasi bebas, sementara Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan negaranya merasa senang dengan kabar tersebut.

Sikap berhati-hati ditunjukkan oleh pemerintah Selandia Baru yang meminta warganya untuk tidak bersikap optimistis secara berlebihan. Perdana Menteri Selandia Baru Christopher Luxon menyampaikan bahwa kesepakatan ini menjadi langkah positif setelah konflik global yang terjadi sempat memukul kondisi finansial masyarakatnya.

Pernyataan bernada waspada juga segera disampaikan oleh jajaran kabinetnya untuk mengantisipasi dinamika geopolitik yang masih cair. Beberapa jam setelah pengumuman, Menteri Keuangan Nicola Willis langsung memberikan peringatan resmi mengenai kondisi di lapangan.

"Saya ingin menyampaikan peringatan di sini," kata Menteri Keuangan Nicola Willis.

Willis menambahkan bahwa rekam jejak konflik di kawasan tersebut memaksa semua pihak untuk tetap bersiap menghadapi segala kemungkinan.

"Situasi di Timur Tengah ragu dan ini bukan pertama kalinya kita mendapat kabar tentang terobosan," kata Nicola Willis.

Di sisi lain, para pelaku industri riil seperti pemilik kapal dan pedagang minyak belum mengambil tindakan operasional secara terburu-buru. Mereka memilih untuk menunggu detail informasi lebih lanjut guna memastikan jaminan keselamatan pelayaran setelah berbulan-bulan mengalami gangguan keamanan.

Kondisi ini diperkirakan akan membuat pemulihan fisik arus komoditas berjalan lebih lambat daripada sentimen di pasar keuangan. Kepala ekonom di Oversea-Chinese Banking Corp. Ltd. di Singapura, Selena Ling, memproyeksikan proses normalisasi arus ekspor akan memakan waktu hingga beberapa bulan.

"Pasar keuangan telah bergerak lebih cepat daripada pasar fisik," kata Selena Ling.

Para pengamat ekonomi global lainnya juga melihat adanya faktor ketidakpastian jangka panjang yang membayangi keberlanjutan kesepakatan damai ini. Ketidakpastian tersebut mencakup kemampuan kepemimpinan Teheran dalam mempertahankan pengaruh ekonomi global di tengah tekanan diplomasi.

Tim analisis dari Bloomberg Economics, termasuk di dalamnya Becca Wasser, mengeluarkan catatan resmi mengenai kerentanan proses pembukaan jalur pelayaran tersebut.

“Benu dengan kesepakatan, pembukaan kembali selat tersebut akan rapuh dan membutuhkan waktu,” tulis para analis.

Situasi pelik ini diprediksi akan mengubah pola logistik negara-negara importir besar di Asia untuk jangka panjang. Jepang kini mulai secara aktif mengamankan pasokan minyak alternatif dari wilayah Amerika Tengah, Amerika Selatan, hingga Afrika demi mengurangi ketergantungan.

Presiden dan pendiri SVB Energy International, Sara Vakhshouri, menilai perubahan strategi pemenuhan energi ini akan menjadi dampak permanen dari konflik.

“Warisan dari konflik ini adalah banyak penyesuaian. Kita akan melihat banyak importir dan banyak negara yang memikirkan logistik tambahan dan alternatif,” kata Sara Vakhshouri.

Vakhshouri menegaskan bahwa pola distribusi energi global tidak akan sepenuhnya sama lagi seperti sebelum krisis pecah.

“Kita akan melihat beberapa perubahan jangka panjang,” kata Sara Vakhshouri.

Pembukaan kembali jalur selat ini dipastikan menjadi sentimen positif bagi Indonesia dan Filipina yang mengalami tekanan fiskal berat akibat krisis energi. Kepala praktik Asia Tenggara di Eurasia Group, Peter Mumford, menjelaskan dampak langsung penurunan harga global bagi kedua negara tersebut.

“Kesepakatan, jika dipertahankan, akan mengurangi beberapa kekhawatiran pasokan langsung dan penurunan harga global akan sangat disambut baik oleh Indonesia, yang telah mengalami tekanan fiskal akibat subsidi bahan bakar, dan Filipina, yang telah menanggung dampak ekonomi terberat dari krisis energi,” kata Peter Mumford.

Meskipun pasar obligasi Indonesia dan peso Filipina langsung menguat, tantangan operasional di sektor pelayaran riil dinilai masih sangat besar. Biaya asuransi dan kepastian keamanan komersial menjadi faktor utama yang menentukan kecepatan pemulihan arus logistik.

Ben Cahill dari Center for Strategic and International Studies menjelaskan situasi krusial yang dihadapi para nakhoda dan pemilik kapal saat ini melalui Bloomberg TV.

“Sampai ada pemahaman luas bahwa aman bagi minyak dan gas untuk mengalir melalui Selat Hormuz, Anda tidak akan melihat pemulihan aliran seperti sebelum perang, dan itulah yang benar-benar penting,” kata Ben Cahill.

Cahill juga menggarisbawahi dampak lanjutan jika volume pengiriman barang tidak bisa segera kembali ke level normal sebelum terjadinya konflik.

“Karena jika kita tidak memiliki aliran seperti sebelum perang, itu menunjukkan bahwa persediaan akan terus menurun, dan pemerintah akan terus harus mengambil tindakan darurat ini,” kata Ben Cahill.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author