Militer AS Serang Pangkalan Rudal dan Kapal Tambang Ranjau Iran
Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara baru ke wilayah Iran selatan guna menghancurkan posisi rudal serta kapal penanam ranjau, dilansir dari Detikcom.
Aksi ofensif di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas dan Selat Hormuz tersebut diklaim sebagai langkah pembelaan diri untuk melindungi pasukan dari ancaman militer Iran.
Komando Pusat AS menegaskan operasi ini bertujuan menjaga keselamatan personel di tengah situasi keamanan regional yang tidak menentu.
"pembelaan diri" kata Komando Pusat AS.
"untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran" kata Komando Pusat AS.
Juru bicara Komando Pusat menjelaskan posisi pasukan Amerika Serikat dalam menghadapi eskalasi terbaru ini.
"terus mempertahankan pasukan kami dengan tetap menahan diri di tengah gencatan senjata yang tengah berlangsung" ujar Tim Hawkins, Kapten Juru bicara Komando Pusat.
Serangan tersebut berdampak langsung pada kelancaran diplomasi bilateral yang sedang diupayakan oleh kedua belah pihak di meja perundingan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pandangannya terkait status pembicaraan damai yang masih berjalan alot.
"belum dalam waktu dekat" kata Esmail Baqai, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Pihak Teheran mengakui adanya perkembangan positif namun menolak klaim bahwa kesepakatan final akan segera ditandatangani.
"Benar bahwa kami telah mencapai kesimpulan atas sebagian besar isu yang dibahas… tetapi untuk mengatakan bahwa ini berarti penandatanganan kesepakatan sudah dekat, tidak seorang pun bisa membuat klaim seperti itu." ujar Esmail Baqai, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat memberikan respons mengenai peluang tercapainya kesepakatan di tengah operasi militer tersebut.
"Kita akan lihat apakah kita bisa mencapai kemajuan. Saya kira saat ini masih banyak proses bolak-balik terkait bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi ini akan memakan waktu beberapa hari," kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Diplomat tertinggi tersebut mengungkapkan sikap dari pemimpin tertinggi Amerika Serikat dalam mengawal jalannya negosiasi kontemporer.
"menyatakan keinginannya untuk mewujudkan hal itu" kata Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Pemerintah AS menekankan bahwa mereka hanya akan menyetujui perjanjian jika klausul di dalamnya menguntungkan kepentingan nasional.
"Dia akan menghasilkan kesepakatan yang baik atau tidak sama sekali," ujar Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Sebelumnya pada akhir pekan lalu, Presiden Donald Trump memberikan instruksi khusus kepada tim negosiator mengenai ritme perundingan bersama Iran.
"agar tidak terburu-buru" kata Donald Trump, Presiden AS.
Klausul krusial yang dibahas mencakup perpanjangan gencatan senjata 60 hari, pembukaan Selat Hormuz, hingga pembatasan pengayaan uranium Iran.
Tantangan komunikasi muncul karena intelijen mendeteksi Pemimpin Tertinggi Iran saat ini tengah mengamankan diri di lokasi rahasia akibat cedera perang terdahulu.
Ketegangan militer ini mengancam stabilitas pasokan energi dunia mengingat posisi strategis Selat Hormuz bagi jalur distribusi minyak internasional.
Pada Senin malam, Trump memberikan pernyataan mengenai nasib cadangan uranium kadar tinggi milik Iran dalam kerangka kerja sama masa depan.
"segera" kata Donald Trump, Presiden AS.
"lebih disukai, dengan kerja sama dan koordinasi dengan Republik Islam Iran, dimusnahkan di lokasi" kata Donald Trump, Presiden AS.
Blokade laut oleh Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan Iran masih terus berlangsung sejak konflik berskala besar pecah pada 28 Februari lalu.