AS Kantongi Proposal Pembukaan Selat Hormuz dari Iran
Pemerintah Iran mengajukan proposal pembukaan kembali Selat Hormuz serta menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam negosiasi nuklir yang terikat batas waktu, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz pada Senin (25/5/2026).
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menilai draf usulan yang diajukan oleh pihak Teheran tersebut sudah berada dalam kondisi yang cukup solid.
Inisiatif ini dilaporkan telah memperoleh respons positif dari sejumlah negara di kawasan Teluk maupun dalam skala internasional.
"Dan harapannya, kita bisa mewujudkan hal tersebut. Langkah ini mendapat banyak dukungan di kawasan Teluk dan juga secara global. Setiap negara yang telah kami ajak berdiskusi memahami bahwa proposal ini tidak hanya sangat masuk akal, tetapi juga merupakan hal yang benar untuk dilakukan demi dunia," ujar Rubio dikutip dari Al Jazeera.
Diplomat tertinggi AS itu menyampaikan keterangan tersebut saat memberikan penjelasan kepada media di tengah kunjungan kerjanya ke India.
Rubio menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan untuk menyepakati draf perjanjian tersebut.
"Presiden tidak akan membuat kesepakatan yang buruk, jadi mari kita lihat apa yang akan terjadi nanti. Kami akan memberikan setiap kesempatan bagi diplomasi untuk berhasil sebelum kami menjajaki opsi-opsi alternatif lainnya," lanjut Rubio, Menteri Luar Negeri AS.
Kelanjutan proses diplomasi ini sekarang berada di tangan pihak pemerintah Iran sepenuhnya.
Pemerintah AS kini memosisikan diri dalam posisi menunggu tanggapan balik resmi dari otoritas di Teheran.
"Ini hanya masalah respons dari pihak Iran," ungkap Rubio kepada wartawan.
Faktor birokrasi internal di dalam pemerintahan Iran dinilai menjadi penyebab proses pengambilan keputusan berjalan dalam durasi yang lebih lama.
Rubio menutup pernyataannya dengan memberikan penegasan ulang mengenai komitmen serta ketegasan sikap yang diambil oleh pemimpin negaranya.
"Presiden tidak akan membuat kesepakatan yang buruk—dia benar-benar tidak akan melakukannya," pungkas Rubio, Menteri Luar Negeri AS.