Arab Saudi dan Amerika Serikat Bahas Serangan Militer di Irak

Share

Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih pada Rabu (29/7) waktu setempat. Pertemuan tersebut digelar pascaserangan gabungan AS dan Arab Saudi terhadap milisi pro-Iran di Irak timur, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Kunjungan Pangeran Khalid ke Washington sebenarnya dijadwalkan pada pekan lalu. Namun, rencana perjalanan tersebut sempat mengalami penundaan akibat meningkatnya intensitas serangan kelompok milisi yang didukung Iran di wilayah Timur Tengah.

Dalam rangkaian agenda tersebut, Pangeran Khalid juga mengadakan pembicaraan dengan Wakil Presiden AS JD Vance. Pertemuan itu menegaskan sikap Riyadh mengenai stabilitas kawasan dan perlindungan terhadap aset-aset strategis negara.

"Kerajaan Saudi tidak akan mentolerir serangan terhadap infrastruktur energi atau target sipilnya," ujar Pangeran Khalid bin Salman, Menteri Pertahanan Arab Saudi, saat berbicara kepada Wakil Presiden AS JD Vance.

Wakil Presiden JD Vance menyambut positif kedatangan utusan Riyadh tersebut dalam pertemuan di Washington. Vance turut menyampaikan pujian terhadap kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dalam menjaga hubungan bilateral.

Keterlibatan militer Riyadh dalam operasi di Irak pada Selasa malam dirancang sebagai pesan ketegasan bagi kelompok bersenjata di kawasan. Tindakan ini ditujukan kepada milisi di Irak serta pemberontak Houthi di Yaman agar tidak menargetkan fasilitas publik.

Pangeran Khalid menyampaikan imbauan agar seluruh pihak menahan diri demi mencegah eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan. Meski demikian, ia menegaskan kesiapan militer Kerajaan jika ancaman terhadap kedaulatan kembali terjadi.

"Arab Saudi memiliki kemampuan dan tekad untuk mempertahankan diri bila diperlukan," ujar Pangeran Khalid bin Salman, Menteri Pertahanan Arab Saudi.

Pangeran Khalid menambahkan bahwa pihak Kerajaan Arab Saudi tidak menginginkan konfrontasi regional yang lebih luas. Diplomasikan ini berlangsung di tengah dinamika politik Washington yang juga baru saja menerima kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Sikap resmi pemerintah Kerajaan terkait situasi keamanan kawasan juga disampaikan secara terpisah oleh otoritas pertahanan. Pernyataan tersebut mempertegas posisi Riyadh dalam merespons dinamika militer yang berkembang.

"Kerajaan Saudi tidak menginginkan eskalasi, tetapi akan merespons setiap agresi yang dihadapinya," kata perwakilan Kementerian Pertahanan Saudi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author