Aprindo Sebut Kenaikan Harga Picu Konsumen Ritel Alih Merek
Penurunan daya beli masyarakat memicu konsumen sektor barang konsumen bergerak cepat (FMCG) beralih ke merek produk yang lebih murah di Indonesia pada Kamis (9/7/2026). Perubahan perilaku belanja ini terjadi akibat lonjakan harga sejumlah produk ritel utama.
Data Indeks Penjualan Riil (IPR) dari Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia menunjukkan adanya penurunan penjualan pada Mei 2026, dilansir dari Bloomberg Technoz. Berdasarkan data BI, IPR menyusut 3,5 poin menjadi 223,4 dari bulan sebelumnya yang mencapai 226,9.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat kontraksi tahunan sebesar -4,1 persen pada Mei 2026. Penurunan ini diproyeksikan berlanjut hingga Juni 2026 dengan perkiraan IPR nasional yang merosot ke posisi 221,6.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin memberikan penjelasan mengenai penyebab perlambatan omzet pada sektor barang kebutuhan pokok tersebut.
"Kenapa penurunan [penjualan ritel FMCG] terjadi? Pertama memang adanya produk-produk yang mengalami kenaikan harga. Orang membeli nggak? tetap membeli. Tetapi pergeseran pola belanjanya ada terjadi," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin.
Menurut Solihin, penyesuaian harga oleh produsen mendorong masyarakat mencari alternatif produk sejenis demi menghemat pengeluaran transaksi harian.
"Karena yang dia anggap brand yang menurut dia selama ini digunakan harganya sudah melakukan penyesuaian. Sehingga dia cari yang barang serupa tapi harganya lebih murah seperti itu," sambung Solihin.
Selain faktor harga, Solihin menyebutkan bahwa penurunan ini merupakan bagian siklus tahunan pasca-Lebaran serta adanya pengalihan anggaran untuk kebutuhan sekolah anak. Namun, ia memproyeksikan penjualan akan kembali terangkat pada semester II-2026 melalui momentum libur sekolah dan perayaan kemerdekaan.
"Jadi pergeseran jenis produk itu bisa berbeda-beda tergantung daripada musim atau kegiatan yang terjadi di bulan tersebut," jelas Solihin.