APNI Dorong Pemerintah Cari Sumber Baru Impor Sulfur Nikel

Share

Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) meminta pemerintah segera membantu pabrik pemurnian atau smelter domestik dalam mengamankan pasokan sulfur baru dari luar Timur Tengah. Langkah ini diperlukan karena penutupan Selat Hormuz mengganggu rantai pasok global dan mengancam operasional pabrik hilirisasi nikel hidrometalurgi di Indonesia.

Krisis logistik ini berdampak langsung pada fasilitas pengolahan yang bergantung pada bahan baku impor tersebut. Seperti dilansir dari Bloomberg Technoz, sekitar 75 persen hingga 80 persen dari total 5,3 juta ton kebutuhan sulfur Indonesia pada tahun 2025 dipasok dari kawasan Timur Tengah.

"Cari sumber baru. Kita sih sudah merekomendasikan beberapa sumber. Bahkan kita sudah bikin surat resmi. Australia ada meski kecil [kapasitas produksi] dan Eropa ada di Bulgaria," kata Meidy Katrin Lengkey, Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) usai menghadiri Indonesia Critical Minerals Conference & Expo 2026 di Jakarta.

Ketergantungan yang tinggi pada satu jalur pelayaran memicu kekhawatiran terhadap kelangsungan produksi nikel nasional. Penghentian arus logistik di Teluk Persia otomatis menghentikan pengapalan komoditas krusial ini menuju tanah air.

"Kalaupun hari ini Selat Hormuz dibuka, apa kita langsung dapat barang? Enggak kan, butuh waktu sekitar tiga bulan karena di sana perlu masa pemulihan [recovery]. Berarti kita baru dapat barang tahun depan. Artinya sampai akhir tahun ini kita tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Meidy Katrin Lengkey, Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).

Untuk mengatasi masalah dalam jangka pendek, APNI menilai Australia merupakan opsi yang paling efisien dari segi jarak. Pemerintah juga disarankan memfasilitasi kerja sama antarpemerintah atau Government-to-Government (G2G) guna menutupi keterbatasan kapasitas produksi di negara tersebut.

"Indonesia bisa menjembatani perusahaan domestik untuk melakukan investasi [chip-in] langsung pada perusahaan sulfur di Australia," ungkap Meidy Katrin Lengkey, Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).

Selain Australia, kawasan Eropa seperti Bulgaria turut dibidik sebagai mitra jangka panjang karena memiliki teknologi pengolahan belerang tingkat lanjut. Indonesia yang kaya akan gunung berapi dinilai memerlukan transfer teknologi tersebut agar bisa mengolah bahan baku lokal di masa depan.

"Eropa punya teknologinya. Kita sebenarnya punya bahan bakunya [sulfur] karena banyak gunung berapi. Tapi bagaimana mengolah belerang, itu butuh teknologi mereka. Pemerintah harus memikirkan itu sekarang, jangan menunggu ada kejadian [krisis]," pungkas Meidy Katrin Lengkey, Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI).

Bahan baku sulfur berperan vital dalam pembuatan mixed hydroxide precipitate (MHP) yang merupakan komponen utama baterai melalui metode pelindian asam bertekanan tinggi. Pembuatan satu ton MHP membutuhkan belerang sebanyak 11,7 ton.

Berdasarkan riset Shanghai Metal Market (SMM), penutupan Selat Hormuz menghentikan ekspor sulfur dari pelabuhan utama seperti Ruwais, Jubail, Ras al-Khair, Ras Laffan, Al Zour, Shuaiba, dan Bandar Imam Khomeini. SMM mencatat Arab Saudi menjadi pemasok terbesar ke Indonesia pada 2025 dengan 1,76 juta ton, diikuti Qatar 967.000 ton, dan Uni Emirat Arab 918.000 ton.

"Lebih dari 75% impor sulfur Indonesia pada 2025 berasal dari Timur Tengah. Struktur pasokan yang sangat terkonsentrasi ini berarti bahwa setelah penutupan Selat Hormuz, sumber bahan baku utama untuk proyek MHP Indonesia akan terputus," tulis Shanghai Metal Market (SMM) dalam laporan risetnya.

SMM memproyeksikan hambatan distribusi komoditas sulfur di jalur global ini akan langsung menekan stabilitas operasional hilirisasi nikel di dalam negeri. Blokade pelayaran tersebut berdampak signifikan pada struktur biaya operasional pabrik hidrometalurgi.

"Sebagai produsen utama bahan baku material nikel-kobalt [MHP], proyek HPAL Indonesia sangat bergantung pada belerang Timur Tengah. Gangguan ini akan langsung memengaruhi biaya produksi dan stabilitas pasokan MHP," tulis Shanghai Metal Market (SMM) lebih lanjut.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author