Apkasindo Soroti Anomali Harga CPO Jelang Mandatori Biodiesel B50
Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menyoroti anomali besar pada pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) di dalam negeri yang tetap stagnan menjelang pemberlakuan mandatori biodiesel B50 pada Jumat (26/6/2026).
Dilansir dari Bloomberg Technoz, ketimpangan terlihat jelas karena lonjakan harga di pasar internasional tidak diikuti oleh pasar domestik, yang justru sering mengalami pembatalan transaksi atau withdrawal (WD) saat proses tender.
Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat Manurung menjelaskan bahwa nilai jual CPO di bursa Rotterdam sudah menembus Rp28.000 per kilogram dan molase hampir mencapai Rp20.000 per kilogram, tetapi pasar lokal hanya berkisar antara Rp15.200 hingga Rp15.600 per kilogram.
"Ini yang menjadi anomali yang harus kita ketahui. CPO Rotterdam sudah Rp28.000/kg, molase hampir menyentuh Rp20.000/kg, tetapi CPO di Indonesia hanya berkutat di angka Rp15.200 sampai Rp15.600," ujar Gulat Manurung, Ketua Umum DPP Apkasindo.
Program transisi biodiesel dari B40 ke B50 yang dicanangkan pemerintah dinilai belum memberikan dampak yang seimbang bagi sektor hulu di dalam negeri.
"[Fenomena] yang saya lihat, kenaikan hanya terjadi pada harga CPO global akibat dari konsumsi domestik yang naik. Jadi dampak ke dalam negeri tidak signifikan. Dari dua tujuan tadi, yang naik hanya global, bukan CPO domestik," tegas Gulat Manurung, Ketua Umum DPP Apkasindo.
Penawaran rendah dari pembeli di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) membuat komoditas sering batal dilepas, yang pada akhirnya menekan kesejahteraan petani swadaya karena harga tandan buah segar (TBS) ikut mandek pasca-pengumuman kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
"Di B40 ke B50 tidak tampak, tidak signifikan. Faktanya, setelah ambruknya harga TBS pascapidato Presiden [Prabowo Subianto] 20 Mei, kenaikan harga CPO domestik hingga kini juga tidak signifikan. Ini yang harus menjadi perhatian serius pemerintah. Kalau tidak, kenaikannya hanya dirasakan oleh global," ujar Gulat Manurung, Ketua Umum DPP Apkasindo.
Penerapan program B50 ini diperkirakan menyerap sekitar 16 juta hingga 20 juta ton CPO per tahun, atau setara dengan 32 persen dari total produksi nasional demi menjaga ketahanan energi.
Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan masih menunggu penerbitan tiga keputusan menteri (kepmen) terkait aspek mandatori, spesifikasi teknis, serta alokasi volume sebelum meluncurkan kebijakan ini secara resmi.
"Ada kepmen mandatori B50 jalan, plus [kepmen] spesifikasi untuk B50-nya. Terus kepmen alokasi juga," ujar Eniya Listiani Dewi, Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM.
Formulasi standar teknis untuk kualitas biodiesel murni (B100) dipastikan berjalan lebih ketat demi mengoptimalkan performa kendaraan jarak jauh.
"Jadi kan spek dari B100 untuk dicampur ke B50 itu ditetapkan. Iya berubah, kan lebih ketat," ujar Eniya Listiani Dewi, Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM.
Kementerian ESDM menegaskan bahwa uji jalan sepanjang 50 ribu kilometer telah rampung pada akhir Mei 2026 dengan hasil yang melampaui spesifikasi awal, sehingga peluncuran mandatori tetap dijadwalkan berjalan pada 1 Juli 2026.
“Iya, per 1 Juli. Gini, walaupun dua [sektor] itu tertinggal, tetapi kan mostly hasil uji sampai 50.000 km itu melampaui spesifikasi yang ada. Maksudnya gini, kalau dipasang filter, 10.000 km sudah harus ganti, ternyata dia sampai 30.000 km nggak ganti [filter], dan ini bagus,” jelas Eniya Listiani Dewi, Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM.