APINDO Soroti Tekanan Industri Padat Karya Pascakarman Karyawan Nike
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyoroti kerentanan sektor industri padat karya terhadap dinamika ekonomi menyusul kabar pemutusan kegiatan kerja sementara bagi 4.000 buruh pabrik pemasok sepatu Nike di Bandung, Jawa Barat.
Langkah merumahkan ribuan pekerja tersebut mulai berjalan sejak 15 Juni 2026 akibat keterlambatan pasokan komoditas produksi dari Amerika Serikat, dilansir dari Detik Finance. Masalah operasional ini berdampak pada sebagian dari total 14.000 pegawai di fasilitas produksi tersebut.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Bob Azam, menjelaskan bahwa fluktuasi harga elemen produksi dan logistik menjadi faktor sensitif bagi keberlangsungan sektor padat karya. Pihaknya mengharapkan stabilitas regulasi dari pemerintah demi melindungi keberlanjutan usaha.
"Memang industri padat karya ini adalah industri yang sensitif terhadap kenaikan harga-harga. Harga-harga bahan bakar lah, kemudian harga logistik lah, kemudian juga biaya buruh lah. Mereka sensitif, sehingga sedapat mungkin kita jaga jangan sampai ada perubahan-perubahan yang sifatnya drastis," ungkap Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO.
Ia mengimbau masyarakat untuk mencermati latar belakang di balik kebijakan internal perusahaan tersebut karena terdapat berbagai spekulasi yang berkembang terkait penyebab utamanya.
"Jadi macam-macam isunya, ya kan. Katanya kesulitan bahan baku, ya kan. Atau order stop, gitu.
Ya, kita teliti lagi lah, ya kan. Persoalannya karena apa, gitu," jelas Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO.
Kondisi pasar internasional turut memengaruhi volume produksi karena pabrik di Indonesia berfungsi sebagai pelaksana manufaktur. Pergeseran permintaan global membuat prinsip rantai pasok wilayah menjadi sangat dinamis dalam menentukan negara mana yang dinilai paling efisien.
"Pengaruh global juga menentukan juga kan, ketika order itu menurun otomatis, ini kan mereka global ini kan bisa melihat, mana negara yang kompetitif nih. Oh mungkin Bangladesh, mungkin Vietnam, mungkin Indonesia. Ini kan sometimes naik turun-naik turun itu mereka yang mengatur.
Ketika disini situasi bagus dia akan banyak. Jadi ini kalau kita bicara regional supply chain, itu kan seperti itu," ungkap Darwoto, Wakil Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO.
Terkait kondisi para pekerja, Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mengonfirmasi bahwa kendala teknis terjadi akibat pengalihan manajemen rantai pasok ke vendor pihak ketiga. Meski operasional terhenti sementara, hak finansial para buruh dipastikan tetap terpenuhi.
"Keterlambatan suplai bahan baku ini informasinya disebabkan karena sebelumnya disuplai bahan baku langsung oleh pihak Nike, tapi kemudian diserahkan ke vendor pihak ketiga, jadi mungkin ada hambatan teknis. Diperkirakan bahan baku baru tersedia bulan Juli," kata Ristadi, Presiden KSPN.