Apindo Sebut Pelemahan Rupiah Beri Tekanan Biaya Berlapis Sektor Manufaktur

Share

Sektor manufaktur nasional kini semakin merasakan dampak negatif dari melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Ketergantungan yang tinggi terhadap material impor membuat industri ini menjadi salah satu yang paling rentan terhadap fluktuasi kurs.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani menjelaskan bahwa struktur produksi nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dan barang antara dari luar negeri. Dikutip dari Detik Finance, penurunan nilai tukar rupiah otomatis mendongkrak biaya pembelian komponen impor tersebut.

Lonjakan biaya ini langsung berimbas pada pembengkakan pengeluaran produksi perusahaan. Nilai tukar dolar AS sempat menyentuh level Rp 18.000, sebelum akhirnya bergerak turun menuju angka Rp 17.944.

"Tekanan terhadap rupiah ini juga sudah terjadi secara bertahap sejak awal tahun, sehingga dampaknya terhadap sektor riil kini semakin terasa. Bagi industri manufaktur, pelemahan rupiah menjadi sangat sensitif karena struktur produksi nasional masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap bahan baku dan barang antara impor, sekitar 70%," kata Shinta.

Tantangan yang dihadapi oleh para pelaku usaha saat ini tidak hanya terbatas pada masalah nilai tukar mata uang. Sektor industri juga harus bergulat dengan tingginya biaya logistik, energi, serta beban pembiayaan.

"Kondisi ini juga terjadi di tengah biaya logistik, energi, dan pembiayaan yang masih relatif tinggi. Jadi, yang dihadapi pelaku usaha saat ini bukan hanya tekanan nilai tukar, tetapi tekanan biaya berlapis atau externally driven cost pressure," ujar Shinta.

Situasi tersebut menempatkan perusahaan manufaktur dalam posisi tekanan ganda yang sulit. Sisi pengeluaran produksi terus membubung tinggi, sementara ruang untuk menaikkan harga jual produk di pasar sangat terbatas.

Keterbatasan menaikkan harga ini dipicu oleh kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Selain itu, tingkat persaingan pasar yang ketat membuat produsen harus berpikir ulang sebelum mengubah harga.

Efek dari depresiasi rupiah ini tidak memukul seluruh sektor industri dengan tingkat keparahan yang sama. Perusahaan yang mengandalkan bahan baku lokal atau berorientasi ekspor dinilai lebih tangguh karena memiliki proteksi alami.

Sebaliknya, tekanan berat menyasar industri yang menyerap mayoritas bahan baku impor namun menjual produk akhirnya ke pasar domestik. Kondisi ini berpotensi menggerus margin keuntungan, memperketat arus kas, dan membatasi ruang ekspansi.

"Kalau volatilitas nilai tukar tinggi, biaya produksi sulit diprediksi, dan tekanan eksternal terus berlanjut, maka appetite perusahaan untuk ekspansi tentu akan lebih berhati-hati. Jadi, bukan berarti semua investasi langsung berhenti, tetapi banyak perusahaan akan masuk ke mode wait and see, lebih selektif, dan menunda keputusan ekspansi sampai kondisi makro lebih stabil," tutur Shinta.

Pemerintah bersama otoritas moneter diharapkan dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah demi membangun kepercayaan pasar. Sektor usaha juga meminta adanya langkah nyata untuk menekan biaya ekonomi domestik.

Sinergi yang kokoh antara kebijakan fiskal, moneter, perdagangan, perindustrian, investasi, hingga ketenagakerjaan menjadi hal yang krusial. Langkah koordinasi ini penting agar stabilitas ekonomi tercapai tanpa mengorbankan pertumbuhan industri.

"Dalam situasi ketika tekanan eksternal meningkat, pengurangan biaya-biaya domestik menjadi sangat penting agar industri tidak kehilangan daya saing. Pemerintah juga perlu memastikan kelancaran pasokan bahan baku dan energi bagi industri. Ketersediaan bahan baku, distribution energi yang memadai, serta efisiensi rantai pasok menjadi kunci agar tekanan biaya tidak semakin besar," kata Shinta.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author