Pemerintah Patok Anggaran PKPN 2027 Capai Rp1.896 Triliun
Kementerian Keuangan memproyeksikan pagu anggaran Program Kerja Prioritas Nasional atau PKPN untuk tahun 2027 bakal menyentuh angka maksimal Rp1.896 triliun dalam rapat kerja bersama Badan Anggaran DPR RI pada Selasa, 9 Juni 2026.
Proyeksi besar tersebut tertuang di dalam dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal atau KEM-PPKF, yang menjadi basis penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun 2027, dilansir dari Bloomberg Technoz.
Alokasi dana raksasa ini disiapkan sebagai bagian dari keseluruhan belanja negara pada 2027 yang targetnya dipatok berada di kisaran angka 13,62 persen hingga 14,80 persen terhadap Produk Domestik Bruto.
"Belanja direncanakan berada pada kisaran 13,62% hingga 14,80% terhadap PDB. Besaran postur makro fiskal 2027 telah memperhitungkan kebutuhan pendanaan berbagai PKPN yang diperkirakan mencapai Rp1.720 triliun hingga Rp1.896 triliun," kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Selasa (9/6/2026).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penyaluran dana PKPN akan dilakukan lewat belanja pemerintah pusat, pembiayaan anggaran, serta optimalisasi transfer ke daerah dan dana desa.
Langkah efisiensi serta penataan ulang fokus anggaran terus dijalankan pemerintah guna menjamin kualitas belanja negara agar tetap produktif, sasarannya tepat, dan berimbas nyata pada ekonomi warga.
Pada agenda sidang yang sama, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Rachmat Pambudy menjabarkan terdapat 60 program dalam PKPN yang terbagi ke dalam 8 kelompok klaster besar.
Delapan sektor utama tersebut mencakup kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, bidang pendidikan, sektor kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur beserta perumahan dan ketahanan bencana, ekonomi kerakyatan dan desa, hingga program penurunan angka kemiskinan.
"Intinya 8 klaster ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Pangan terhubung dengan gizi, gizi terhubung dengan pendidikan, pendidikan terhubung dengan produktivitas, produktivitas terhubung dengan industri, industri menciptakan lapangan kerja, lapangan kerja menurunkan jumlah orang miskin dan semua itu perlu sarana dan prasarana yang saling terkait dan ter-interkoneksi," ucap Rachmat.
Program di klaster pangan berfokus pada pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih, pengadaan 4.582 kapal ikan modern, 40.000 lokasi budidaya ikan darat, revitalisasi tambak nila salin 14.090 hektare di Pantura, permodelan 2.000 hektare tambak udang, hingga perluasan industri garam dan perkebunan.
Pada klaster energi, target meliputi mandatori B50 dan E20, PLTS 100 GW, konversi 6 juta motor listrik, jaringan gas untuk 1 juta rumah, eksplorasi 10 blok migas baru, elektrifikasi 10.000 desa, kompor listrik bagi 2-5 juta rumah, serta optimalisasi ribuan sumur minyak.
Untuk sektor pendidikan dan kesehatan, program prioritas di antaranya Makan Bergizi Gratis bagi anak sekolah serta ibu hamil, menyusui, dan balita, revitalisasi sekolah, pendirian 10 universitas baru berbasis STEMM, peningkatan kesejahteraan guru, peningkatan kualitas 66 rumah sakit, dan penuntasan tuberkulosis.
Sementara pada klaster hilirisasi, infrastruktur, ekonomi desa, dan kemiskinan, fokus diarahkan pada 18 proyek strategis, proyek mobil dan motor nasional, pembangunan Giant Sea Wall, pembangunan dan renovasi 3 juta rumah, pengaktifan 80.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, serta integrasi bansos Pro-Kesra untuk 10 juta pekerja.