Aroma Alami Ibu Terbukti Membantu Bayi Menyusui Lebih Mudah

Share

Aroma alami yang dipancarkan oleh tubuh ibu ternyata memiliki peran krusial yang jauh melampaui sekadar insting keibuan. Wewangian alami dari kulit, puting, hingga air susu ibu (ASI) terbukti secara ilmiah membantu menenangkan bayi sekaligus mempermudah proses menyusui sejak awal kelahirannya. Fakta ilmiah ini dilansir dari HaiBunda melalui pemaparan Profesor Vivien Swanson, seorang psikolog kesehatan sekaligus peneliti dari University of Stirling.

Swanson memimpin riset internasional lewat WOLF Project (Wellcome-funded Olfaction Project) yang mengkaji hubungan erat sistem penciuman (olfaktori) dalam memperkuat ikatan emosional orang tua dan anak.

Saat lahir ke dunia, bayi langsung beradaptasi menggunakan seluruh indera tubuhnya, termasuk penciuman. Aroma dari tubuh ibu, kolostrum, serta ASI diduga kuat bertindak sebagai sinyal biologis aktif yang menuntun bayi menemukan sumber makanan.

Dalam dunia mamalia, bayi hewan sangat bergantung pada indera penciuman untuk mendeteksi puting induknya agar dapat bertahan hidup. Sistem penciuman manusia juga bekerja serupa untuk mengomunikasikan emosi, mengenali anggota keluarga, hingga membangun ikatan sosial yang kuat.

Melalui WOLF Project, para ilmuwan kini berupaya mengidentifikasi senyawa kimia utama selama menyusui yang berpotensi menjadi feromon manusia pertama yang teridentifikasi. Temuan ini diharapkan mampu mengatasi masalah menyusui yang umum terjadi, seperti bayi kesulitan melekat (latch), puting nyeri, hingga persepsi produksi ASI yang kurang.

Kesenjangan dalam Panduan Menyusui Global

Meskipun bukti ilmiah mengenai peran penciuman ini sangat kuat, panduan menyusui di tingkat global rupanya masih jarang membahas aspek olfaktori.

Tim peneliti telah meninjau dokumen panduan dari WHO, UNICEF Baby Friendly Initiative, serta pedoman nasional dari 11 negara berbeda. Hasil tinjauan tersebut menunjukkan hanya sedikit sekali regulasi resmi yang secara eksplisit mencantumkan pentingnya indera penciuman bagi bayi baru lahir. Padahal, metode seperti kontak kulit ke kulit (skin-to-skin care) dan perawatan ala metode kanguru secara tidak langsung mendukung pertukaran aroma alami ini.

Sebaliknya, beberapa kebiasaan medis atau tradisi budaya tertentu justru dinilai berisiko mengurangi efektivitas komunikasi aroma alami antara ibu dan bayi.

Beberapa tindakan yang diduga meminimalkan aroma ibu di antaranya memandikan bayi langsung setelah lahir, membasuh payudara sebelum menyusui, serta penggunaan antiseptik berlebih. Penggunaan minyak pijat beraroma menyengat, membuang kolostrum pertama, hingga pemberian susu formula dengan aroma buatan juga ditengarai dapat mendistorsi penciuman bayi.

Kendati demikian, tim peneliti menegaskan perlunya studi lanjutan untuk mengukur seberapa besar pengaruh langsung dari kebiasaan-kebiasaan tersebut terhadap kegagalan menyusui.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author