Ajax Amsterdam Kalah dari Utrecht Maarten Paes Kebobolan Dua Gol
Ajax Amsterdam yang diperkuat oleh penjaga gawang Timnas Indonesia, Maarten Paes, dipaksa menyerah saat menjamu Utrecht pada pertandingan ke-33 Eredivisie musim 2025/2026. Hasil minor ini membuat langkah mereka untuk mengamankan tiket menuju Liga Champions menjadi semakin berat.
Seperti dilaporkan oleh Bola, tim tuan rumah takluk dengan skor tipis 1-2 dalam pertandingan yang digelar di Johan Cruyff ArenA pada Minggu, 10 Mei 2026, malam WIB. Paruh pertama pertandingan berjalan sengit dengan skor kacamata 0-0 bertahan hingga turun minum.
Gawang yang dikawal oleh Maarten Paes akhirnya jebol terlebih dahulu pada menit ke-81 melalui gol yang dicetak oleh Niklas Vesterlund. Ajax sempat membuka harapan lewat aksi balasan dari Wout Weghorst, namun sundulan Mike van der Hoorn di menit-menit akhir laga memastikan kekalahan tuan rumah.
Hasil negatif ini membuat posisi Ajax melorot ke peringkat kelima klasemen sementara dengan raihan 55 poin. Mereka kini berjarak tiga angka dari Twente yang berada di urutan ketiga, sementara kompetisi hanya menyisakan satu pertandingan terakhir.
Dalam laga melawan Utrecht, pelatih Oscar Garcia kembali memberikan kepercayaan kepada Maarten Paes untuk tampil sejak menit awal di bawah mistar gawang. Pertandingan ini menjadi penampilan ke-10 bagi sang kiper bersama Ajax Amsterdam.
Meski melakukan empat kali aksi penyelamatan penting, Maarten Paes mendapatkan rating sebesar 6,2 setelah gawangnya bobol dua kali. Sepanjang 10 penampilan beruntunnya, pemain berusia 27 tahun tersebut telah kebobolan 11 gol dan mencatatkan empat kali clean sheet dengan nilai rata-rata 7,01 per laga.
Kritik Pengamat untuk Lini Belakang
Performa lini pertahanan Ajax dalam pertandingan ini tidak luput dari sorotan tajam dua analis sepak bola asal Belanda, Kenneth Perez dan Marciano Vink. Kedua pengamat tersebut memberikan kritik terkait proses terjadinya dua gol yang bersarang ke gawang Maarten Paes.
"Anda melihat pertandingan di antara semua pertandingan lainnya. Di babak pertama, Ajax bermain bagus. Di setengah jam terakhir, Anda melihat semakin banyak pemain biru menguasai bola. Biru menekan, jadi itu FC Utrecht," kata Kenneth Perez.
Lini belakang Ajax menjadi fokus evaluasi setelah data menunjukkan 22 persen gol yang bersarang ke gawang mereka di musim ini berawal dari situasi bola mati. Kenneth Perez menilai Maarten Paes perlu meningkatkan dominasi dan komunikasinya di dalam area penalti.
"Mereka pikir itu menyenangkan dan lucu untuk membeli pemain kecil. Jika Anda kecil dan tidak begitu bagus dalam situasi bola mati, Anda harus berpikir di luar kotak," ujar Kenneth Perez.
Ancaman Absen di Liga Champions
Dengan hanya menyisakan satu laga sisa, peluang Ajax untuk menembus posisi tiga besar demi mengamankan tempat di Liga Champions menjadi sangat tipis. Kondisi ini menjadi kemunduran bagi klub yang memiliki sejarah panjang di kompetisi domestik maupun Eropa tersebut.
Pada musim sebelumnya, Ajax masih mampu bersaing ketat dengan PSV hingga pekan terakhir untuk memperebutkan gelar juara Eredivisie sekaligus menyegel tiket Liga Champions. Untuk musim ini, mereka dipastikan tanpa gelar dan kemungkinan besar harus puas bermain di kompetisi Liga Europa.
"Ajax tidak pernah menjadi juara dalam hal ini selama bertahun-tahun. Sekarang ini sangat penting, karena Anda tidak bertanggung jawab sendiri," kata Kenneth Perez.