AI Mulai Digunakan untuk Seleksi Sperma dan Embrio Program IVF

Share

Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai dilibatkan oleh perusahaan bidang kesuburan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan program bayi tabung atau Fertilisasi in Vitro (IVF). Teknologi baru ini difokuskan pada proses seleksi sperma serta pemindaian embrio secara lebih terpresisi.

Pengembangan teknologi ini dilakukan guna memperkecil celah kegagalan prosedur reproduksi tersebut, seperti dilansir dari HaiBunda. Data U.S. Centers for Disease Control and Prevention tahun 2022 mencatat bahwa persentase keberhasilan kelahiran melalui bantuan teknologi reproduksi berada di angka 37,5 persen pada seluruh kelompok usia.

Penerapan AI dalam bidang medis ini diyakini mampu memprediksi potensi kehamilan secara lebih detail. Sistem ini bekerja dengan memindai kualitas embrio serta mendeteksi kondisi genetik yang dapat memengaruhi tingkat keberhasilan proses kelahiran.

Meski demikian, penggunaan alat ini memicu perhatian dari sejumlah pakar terkait risiko privasi data hingga isu etika. Penyaringan embrio berbasis AI untuk fitur non-medis seperti warna mata atau tinggi badan dinilai memerlukan aturan yang jelas.

"Sama seperti masyarakat luas yang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan ini tentang kerangka kerja untuk AI, saya pikir bahwa penyedia reproduksi berbantuan perlu melakukan hal yang sama," kata pakar reproduksi dan embriologi klinis, Mina Alikani.

Secara teknis, penerapan AI sudah mulai masuk ke tahap analisis morfologi gamet dan pemindaian embrio. Tinjauan sistematis pada 2023 menunjukkan bahwa penggabungan analisis gambar embrio dengan data klinis berbasis model AI memiliki median akurasi 81,5 persen dalam memprediksi kehamilan klinis, sedangkan analisis manual oleh ahli embriologi berada di angka 51 persen.

Sejumlah platform kesuburan seperti Cercle dan Herasight mulai melatih model AI menggunakan kumpulan data medis besar. Data yang diolah mencakup riwayat hormonal, fisiologis, motilitas sperma, hingga literatur klinis dari lembaga resmi seperti HFEA dan SART.

Pengujian terbatas pada 2025 memperlihatkan performa AI setara dengan metode pemilihan embrio konvensional. Namun, Alikani menegaskan bahwa hasil tersebut belum membuktikan peningkatan tingkat kelahiran hidup secara konsisten dalam praktik klinis harian.

"Sistem AI menunjukkan potensi dalam membantu seleksi sel telur, embrio, dan sperma, tetapi belum secara konsisten divalidasi untuk meningkatkan hasil klinis atau menggantikan penilaian ahli embriologi," ujar Mina Alikani.

Tantangan lain yang dihadapi mencakup standardisasi data antar-laboratorium yang masih minim. Hal tersebut dikarenakan prosedur pengumpulan data medis berbeda di tiap negara maupun klinik kesuburan.

"Ini seperti Menara Babel," kata ahli endokrinologi reproduksi dari Universitas Columbia, David Sable.

David Sable juga menyoroti aspek biaya dan keamanan data dalam pengembangan teknologi ini. Prosedur IVF saat ini bisa mencapai USD 50 ribu per siklus, sehingga kerahasiaan data pasien wajib dilindungi dari risiko kebocoran data maupun potensi kesalahan sistem AI.

Hingga saat ini, tingkat keberhasilan IVF pada kondisi optimal umumnya berada di angka 50 persen atau lebih rendah. Para ahli menilai integrasi AI memerlukan evaluasi klinis berkala sebelum diterapkan sebagai standar baru dalam pelayanan kesuburan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author