Adopsi AI Dongkrak Pendapatan Perusahaan China Hingga 51 Persen

Share

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini menjelma sebagai motor penggerak utama dalam pertumbuhan bisnis di tingkat global. Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, penetrasi teknologi ini memberikan dampak yang bervariasi di tiap wilayah, di mana China tampil sebagai negara paling agresif dalam memanfaatkan AI guna memperbesar pendapatan korporasi.

Riset terbaru dari Strategy& yang merupakan divisi strategi global PwC mengungkapkan bahwa jajaran perusahaan di China membukukan lonjakan penjualan hingga 51% melalui implementasi AI. Rekor tersebut memimpin di tingkat global dan berada jauh di atas rata-rata dunia yang berada di angka 29%. Bukan hanya memicu pertumbuhan omzet, pemanfaatan AI di Negeri Tirai Bambu tersebut juga memotong biaya operasional sebesar 26%.

Berdasarkan data PwC, korporasi di China bergerak secara masif dalam mengintegrasikan sistem kecerdasan buatan ke hampir seluruh lini rantai bisnis mereka. Proses integrasi ini mencakup sektor manufaktur, manajemen rantai pasok, aktivitas pemasaran, pelayanan pelanggan, hingga fase pengembangan produk.

"AI bukan lagi fitur yang berlapis ke proses yang ada, AI mulai menentukan bagaimana strategi ditetapkan, bagaimana operasi berjalan, dan di mana keunggulan kompetitif dibangun atau hilang," tulis laporan tersebut, dikutip Kamis (21/5/2026).

Studi dari PwC menggarisbawahi adanya perbedaan kontras mengenai pendekatan regulasi dan operasional AI di China jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS) maupun Eropa. Sektor bisnis di China mengoptimalkan AI untuk memicu terwujudnya peluang usaha baru serta mendongkrak pemasukan. Di sisi lain, korporasi di AS lebih menitikberatkan fungsi AI untuk mengejar efisiensi pengeluaran.

Data laporan menunjukkan bahwa perusahaan di Amerika Serikat berhasil menghemat biaya operasional hingga 38% berkat bantuan AI, yang menjadi angka efisiensi tertinggi di dunia. Kendati demikian, imbas teknologi ini terhadap kenaikan grafik penjualan di AS hanya menyentuh angka 21%.

PwC menganalisis bahwa korporasi di AS saat ini cenderung lebih agresif dalam mengotomatisasi rumpun pekerjaan administratif, back-office, proses analitik, serta pengelolaan operasional demi mendongkrak profitabilitas. Sementara itu, performa perusahaan di kawasan Uni Eropa mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 14% dan penghematan biaya sebesar 22%. Khusus di Jerman, pertumbuhan penjualan terpantau hanya bergeser 11% dengan tingkat pemangkasan biaya operasional sebesar 16%.

PwC mengidentifikasi bahwa ketatnya regulasi serta sikap yang penuh kehati-hatian dalam memperlakukan AI menjadi faktor penentu lambatnya adopsi teknologi ini di Eropa jika dikomparasikan dengan pergerakan di China atau AS.

"Eropa dan Jerman khususnya, semakin tertinggal dari China dan AS dalam peningkatan pendapatan dan pengurangan biaya melalui AI, mengubah kematangan AI menjadi pertanyaan daya saing ekonomi daripada kemampuan teknologi," tulis laporan tersebut.

Pergeseran Paradigma Investasi dan Kesiapan Organisasi

PwC menekankan bahwa kedudukan AI saat ini sudah bergeser dari yang semula hanya berupa proyek eksperimental menjadi fondasi utama dalam transformasi bisnis jangka panjang. Banyak korporasi global yang mulai menyatukan AI ke dalam sistem pengambilan keputusan, otomatisasi alur kerja, pembuatan layanan yang personal, analisis perilaku pasar, hingga optimalisasi logistik.

PwC memproyeksikan bahwa entitas bisnis yang sanggup mengadopsi AI secara menyeluruh akan memegang keunggulan kompetitif yang sangat besar dalam beberapa tahun ke depan.

"AI tidak lagi hanya tentang teknologi, tetapi tentang bagaimana perusahaan menciptakan nilai bisnis baru," tulis laporan tersebut.

PwC menemukan adanya perubahan haluan yang signifikan dalam peta investasi korporasi global. Apabila pada periode sebelumnya modal besar dialokasikan untuk mendirikan infrastruktur digital, saat ini perusahaan mulai menggeser dana dalam jumlah besar untuk menyuntikkan AI ke proses bisnis inti mereka.

Alokasi investasi ini tidak terbatas pada pembiayaan model AI dan cloud computing semata, melainkan merambah ke pengembangan talenta digital, tata kelola data, serta pelatihan karyawan. Menurut lembaga tersebut, pelaku usaha kini kian sadar bahwa kesuksesan implementasi AI sangat bergantung pada kesiapan internal organisasi dan mutu data yang dikelola.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author