Pemerintah Guyur Rp8 Triliun ke Pasar Obligasi Guna Redam Pelemasan Rupiah
Langkah taktis diambil pemerintah demi membendung kemerosotan nilai tukar mata uang garuda yang terjadi secara beruntun selama beberapa bulan terakhir. Anggaran sebesar Rp8 triliun dikabarkan telah dialokasikan di pasar obligasi.
Strategi intervensi ini dilakukan dengan menjaga tingkat imbal hasil (yield) surat utang negara. Upaya tersebut bertujuan untuk mempertahankan daya pikat aset domestik bagi penanam modal internasional, sehingga aliran dana asing yang masuk dapat menyokong penguatan rupiah.
“Mungkin Rp8 triliun lebih yang di obligasi, sebenarnya tidak boleh diomongin tetapi biar anda tahu saya intervensi sedikit. Terus yield 10 tahun kan relatif stabil, jadi dampaknya ada ke surat utang kita,” kata Purbaya di Kompleks DPR, Kamis (4/6/2026).
Berdasarkan data yang dikutip dari Bloombergtechnoz, tekanan terhadap mata uang nasional masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Pada pembukaan perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah langsung terkoreksi 0,06% ke level Rp17.960 per dolar AS.
Depresiasi berjalan dalam tempo cepat. Kurang dari tiga puluh menit sejak pasar dibuka, tepatnya pada pukul 09.04 WIB, nilai tukar rupiah terus tergerus hingga menyentuh angka Rp17.995 per dolar AS.
Tekanan jual yang masif akhirnya membawa rupiah melampaui batas psikologis penting bagi para pelaku pasar. Tepat pada pukul 09.16 WIB, nilai tukar menembus level Rp18.000 per dolar AS yang sekaligus menjadi rekor terendah sepanjang sejarah, sebelum melorot lagi 0,25% ke posisi Rp18.020 per dolar AS pada pukul 09.25 WIB.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tidak memungkiri bahwa pelemahan mata uang ini secara otomatis meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri dalam denominasi rupiah. Kendati demikian, ketahanan fiskal nasional dinilai masih cukup tangguh menghadapi gejolak ini.
“Cuman pada waktu rupiah melemah, maka pembayaran (utang) dalam rupiah meningkat. Namun, ini masih dalam range perhitungan kami,” tutur Purbaya.
Pada kesempatan terpisah, otoritas moneter menegaskan komitmennya untuk tetap siaga di pasar keuangan. Kebijakan intervensi diintensifkan guna memastikan volatilitas tetap terkendali dan mekanisme pasar berjalan sesuai dengan nilai fundamentalnya.
Langkah penguatan juga diterapkan pada struktur suku bunga instrumen moneter pro-market. Kebijakan ini diambil agar pasar keuangan domestik tetap kompetitif dalam menjaring modal asing.
“Secara umum, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional, secara YTD(year to date) melemah -7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$146,2 miliat pada akhir April 2026,” kata ujarnya.
Operasi pasar secara berkesinambungan bakal ditempuh lewat mekanisme transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore. Selain itu, optimalisasi dilakukan melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
“Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif,” tutur Destry.
Sebagai langkah jangka panjang untuk memitigasi risiko volatilitas dan menekan ketergantungan terhadap dolar AS, Bank Indonesia memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT). Kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral ini telah berjalan dengan Jepang, Tiongkok, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di April 2026 mencapai sekitar US$22,7 miliar. Sedangkan transaksi LCT selama tahun 2026 mencapai US$25,7 miliar,” tutur dia.