BEI Bantah Isu MSCI Turunkan Status Pasar Modal Indonesia
Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan klarifikasi terkait rumor penurunan status pasar modal Indonesia oleh MSCI menjadi Frontier Market pada Kamis (6/4/2026). Informasi keliru yang beredar di media sosial tersebut bersumber dari sebuah tangkapan layar tiruan yang menggunakan logo MSCI.
Kepastian mengenai kondisi riil pasar modal ini disampaikan langsung oleh pihak otoritas bursa di Jakarta, sebagaimana dilansir dari Detik Finance. Pihak bursa menegaskan bahwa kondisi fundamental perusahaan yang tercatat di dalam negeri saat ini masih menunjukkan performa yang sangat kuat.
"Kemarin kita ikuti bersama ada informasi yang tidak akurat beredar di pasar terkait dengan tangkapan layar, seolah-olah ada pengumuman MSCI bahwa Indonesia ditempatkan di Frontier Market, yang ternyata itu adalah informasi yang salah," ungkap Jeffrey Hendrik, Penjabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (6/4/2026).
Otoritas meyakini bahwa penilaian lembaga internasional terhadap Indonesia tidak akan mengalami penurunan kelas. Para investor juga diimbau untuk lebih selektif dan melakukan verifikasi atas segala informasi di media sosial sebelum bertransaksi.
"Kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi bahwa Indonesia akan tetap di Emerging Market. Sekali lagi saya sampaikan, dari hal-hal konkret yang sudah kita lakukan, kami memiliki ekspektasi yang sangat tinggi Indonesia akan tetap di Emerging Market," tegas Jeffrey Hendrik.
Kinerja keuangan emiten yang positif menjadi landasan kuat keyakinan bursa terhadap posisi Indonesia. Sepanjang tahun 2025, laba bersih perusahaan tercatat tumbuh sebesar 21 persen, sedangkan emiten indeks LQ45 mengantongi lonjakan laba bersih hampir 30 persen pada kuartal I-2026.
"Ya, kalau kita lihat di tahun 2020 hanya ada 63% perusahaan tercatat membukukan laba bersih. 2021-2025 itu persentasenya antara 73% sampai 76% perusahaan yang membukukan keuntungan. Kuartal pertama tahun 2026 80% membukukan laba bersih. Itu tentu menunjukkan bahwa fundamental dari perusahaan-perusahaan tercatat kita saat ini dalam kondisi baik," pungkas Jeffrey Hendrik.