Perempuan Sakit Campak Nekat Nonton Konser Picu Kekhawatiran Publik
Sebuah unggahan di platform Threads memicu kekhawatiran publik setelah seorang perempuan mengaku tetap menghadiri konser musik meski sedang terinfeksi penyakit campak yang menular cepat melalui percikan batuk atau bersin.
Aksi nekat penonton tersebut memancing kemarahan warganet karena memicu risiko penularan yang tinggi di area kerumunan. Berdasarkan informasi yang dilansir dari HaiBunda, pemilik akun sempat menuliskan bahwa ruam merah sudah muncul di badannya semenjak tiga hari sebelum konser berlangsung.
Meski unggahan asli telah dihapus oleh pemilik akun, beberapa pengguna Threads sempat mengabadikan tangkapan layar dari pernyataan tersebut.
"Ada yang sempat lihat Threads ini? Waktu mau dibaca malah hilang. Emang bolehkah nonton konser offline dengan kondisi campak seperti ini?" tulis salah satu akun di Threads.
Netizen lain turut mengecam tindakan ceroboh tersebut karena berpotensi menyebarkan droplet berbahaya saat ikut bernyanyi di dalam konser.
"Mana ada campak tiga hari sembuh enggak pake masker pula, kalo ikutan sing along kebayang dropletnya terbang kemana-mana," jawab pengguna yang lain.
Kekhawatiran juga muncul mengenai dampak penularan virus ini kepada kelompok rentan seperti ibu hamil yang mungkin berada di lokasi yang sama.
"Padahal dia juga udah bilang ‘Menular banget’… dikiranya badan udah enggak merah, udah enggak nular gitu?! Semoga enggak ada ibu hamil di dekat dia yaa," tulis akun lainnya.
Menanggapi kejadian tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) memberikan penjelasan mengenai masa penularan aktif dari virus campak.
"Ya, pada saat menonton konser ia sangat besar kemungkinan masih menularkan. Masa menular campak berlangsung kira-kira empat hari sebelum ruam muncul sampai empat hari sesudah ruam muncul," ujar Sukamto, Ketua Satgas Vaksinasi Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr dr Sukamto Koesnoe, SpPD K-A.I FINASIM.
Pihak medis menegaskan bahwa kondisi pasien pada hari pertunjukan musik tersebut justru sedang berada dalam fase penyebaran virus yang paling tinggi.
"Jadi, bila ruam baru keluar H-3 sebelum konser, pada hari-H ia justru masih berada dalam puncak masa penularan. Bahkan periode paling infeksius adalah beberapa hari menjelang dan sesudah ruam timbul," sambung Sukamto.