Emily Dreissigacker Didiagnosis Kanker Lambung Stadium 4 Setelah Melahirkan
Mantan atlet Olimpiade cabang biathlon Emily Dreissigacker didiagnosis menderita kanker lambung stadium 4 pada Juli 2024 setelah mengalami gejala sakit perut tidak biasa yang awalnya dikira sebagai kondisi normal pascamelahirkan, seperti dilansir dari HaiBunda.
Keluhan tersebut pertama kali muncul sekitar empat minggu setelah Emily melahirkan putranya pada November 2023. Rasa sakit tersebut kemudian berkembang menjadi perut sering terasa penuh, penurunan berat badan tanpa sebab, hingga muntah tanpa disertai mual.
"Saya melahirkan anak laki-laki pada November 2023. Keluhan yang pertama kali dirasakan adalah sakit perut, dan itu muncul sekitar empat minggu setelah melahirkan. Tentu saja, saat itu saya berpikir itu terkait postpartum," ungkap Emily, dilansir laman The Patient Story.
Tim medis sempat memberikan obat PPI yang sempat menghilangkan semua keluhannya, namun rasa tidak nyaman tersebut kembali kambuh sekitar empat hingga enam minggu setelah berhenti mengonsumsi obat.
"Tim perawatan lalu memberi saya obat PPI (obat sakit perut), dan semua keluhan hilang. Saya pun berhenti minum obat. Namun, sekitar empat hingga enam minggu setelahnya, keluhan kembali muncul dan disertai rasa tidak nyaman lainnya." kata Emily.
Emily kemudian menjalani pemeriksaan endoskopi dan biopsi. Hasil awal pengujian tersebut sempat menunjukkan hasil negatif terhadap kanker, dan tim medis mendiagnosisnya mengalami anemia pernisiosa atau ketidakmampuan tubuh menyerap vitamin B12.
"Tim perawatan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ke spesialis gastroenterologi. Saya menjalani endoskopi dan biopsi, semua hasilnya negatif. Mereka bilang, 'kabar baiknya adalah kamu tidak memiliki kanker'. Mereka saat itu mendiagnosis anemia pernisiosa, atau ketidakmampuan tubuh untuk menyerap vitamin B12," ungkapnya.
Meski telah mendapatkan suntikan vitamin B12, gejala yang dirasakan mantan atlet tersebut tidak kunjung mereda.
"Saya pun mendapatkan suntik vitamin B12. Tapi, gejalanya tidak juga hilang," sambungnya.
Keyakinan bahwa ada masalah serius di tubuhnya mendorong Emily untuk mencari opini kedua hingga akhirnya ia divonis mengidap kanker lambung stadium 4. Pascapengumuman medis tersebut, Emily memilih fokus menjaga pola pikir positif dan tetap rutin berolahraga seperti lari, bermain ski, serta angkat beban.
"Saya adalah atlet, saya pernah ikut kompetisi Olimpiade tahun 2018 di Pyeongchang. Jadi, latihan fisik selalu menjadi bagian dari hidup saya. Tujuannya sekarang berubah. Bila dulu saya berlatih untuk kompetisi, sekarang saya melakukannya untuk membantu perawatan dan membangun pola pikir positif," ujarnya.
Selain menjaga kebugaran fisik, Emily juga memfokuskan energinya untuk menulis surat bagi putranya serta menyusun buku resep makanan untuk suaminya.
"Berpikir bahwa saya tidak bisa hadir untuknya (sang putra) dan melihatnya tumbuh tentu saja sangat berat, terutama tiga sampai empat hari setelah menjalani kemoterapi dan saya harus memakai alat pumping selama 42 jam," katanya.
Kini, Emily memilih menerapkan pendekatan integratif demi menunjang pengobatannya dengan menggabungkan metode medis tradisional seperti kemoterapi dan imunoterapi bersama gaya hidup sehat.
"Saya tahu itu berat. Tapi saya mensyukuri semua hal baik yang terjadi di hidup saya. Saya pikir, saya sudah melakukan pekerjaan yang baik sebelumnya." pungkas Emily.