Tracer Study ITB 2025 Catat Lulusan Angkatan 2018 Cepat Dapat Kerja
Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2018 menunjukkan performa yang responsif dalam memasuki dunia kerja. Data teranyar mengenai keterserapan lulusan tersebut dipaparkan dalam laporan Tracer Study ITB 2025 yang diterbitkan oleh Direktorat Pengembangan Pendidikan ITB.
Dikutip dari Detikcom, hasil survei membuktikan bahwa rata-rata alumni ITB angkatan 2018 sukses mendapatkan pekerjaan pertama mereka dalam kurun waktu 2,11 bulan setelah kelulusan. Di sisi lain, para alumnus yang memilih untuk membangun usaha sendiri mencatatkan waktu transisi yang lebih singkat, yaitu kurang dari satu bulan setelah lulus kuliah.
Bila dirinci berdasarkan durasi pencarian kerja, sebanyak 1.330 alumni ITB angkatan 2018 berhasil memperoleh pekerjaan dalam waktu kurang dari 3 bulan. Selanjutnya, terdapat 647 alumni yang membutuhkan waktu tunggu sekitar 3 hingga 6 bulan, sementara 308 orang lainnya mendapatkan pekerjaan setelah menanti lebih dari 6 bulan.
Bagi kategori lulusan yang berwirausaha, tercatat 65 orang memulai bisnis mereka dalam rentang waktu kurang dari tiga bulan pascakelulusan. Sebanyak 19 alumni merintis usaha dalam waktu 3 hingga 6 bulan, dan 30 orang sisanya baru memulai berwirausaha setelah lebih dari 6 bulan menyelesaikan studi.
Pihak kampus menyimpulkan bahwa mayoritas lulusan, baik yang menempuh jalur pekerja profesional maupun sektor kewirausahaan, sanggup mengawali karier mereka dalam durasi di bawah tiga bulan.
"Dapat disimpulkan bahwa waktu tunggu alumni untuk bekerja maupun berwirausaha terbanyak ada dalam rentang waktu kurang dari tiga bulan setelah kelulusan. Hal ini menandakan bahwa alumni ITB angkatan 2018 dapat diterima dengan baik dalam pasar kerja Indonesia," demikian tertulis dalam laporan Tracer Study ITB 2025.
Penelitian ini memetakan data statistik yang mendalam mengenai masa tunggu alumni sebelum akhirnya terserap di dunia profesional ataupun sektor usaha mandiri.
Berikut adalah rincian data kuantitatif masa tunggu kerja untuk alumni ITB angkatan 2018:
| Indikator Kinerja | Nilai / Jumlah |
|---|---|
| 2.285 orang | -37 bulan |
| 48 bulan | 2,11 bulan |
| 2 bulan | 1 bulan |
| 5,75 bulan | 1.330 orang |
| 647 orang | 308 orang |
Sementara itu, data kuantitatif untuk kelompok alumnus yang memilih jalur kewirausahaan terdokumentasi sebagai berikut:
| Indikator Kinerja | Nilai / Jumlah |
|---|---|
| Jumlah Observasi | 114 orang |
| Minimum | -48 bulan |
| Maksimum | 36 bulan |
| Rata-rata | 0,85 bulan |
| Median | 1 bulan |
| Modus | 1 bulan |
| Simpangan Baku | 14,06 bulan |
| Waktu tunggu < 3 months | 65 orang |
| Waktu tunggu 3-6 bulan | 19 orang |
| Waktu tunggu > 6 bulan | 30 orang |
Profil Partisipan dan Distribusi Program Studi
Survei Tracer Study ITB 2025 ini secara khusus menyasar alumni angkatan 2018 sebagai objek penelitian utama. Fase satu hingga tiga tahun setelah kelulusan dipandang sebagai momentum paling tepat guna melacak masa transisi dari sektor pendidikan tinggi menuju gerbang industri.
Secara keseluruhan, riset melibatkan partisipasi aktif dari 3.274 responden, dari total populasi alumni angkatan 2018 yang berjumlah 3.664 orang. Keterlibatan terbanyak disumbang oleh Program Studi Manajemen dengan jumlah 170 alumni, sedangkan Program Studi Seni Rupa menjadi yang paling sedikit dengan 22 alumni.
Jika ditinjau dari tingkat partisipasi per program studi, terdapat 12 prodi yang sukses menembus angka kepesertaan mutlak atau 100 persen. Prodi-prodi tersebut meliputi Teknologi Pasca Panen, Rekayasa Infrastruktur Lingkungan, Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air, Teknik Pangan, Manajemen Rekayasa, Meteorologi, Farmasi Klinik dan Komunitas, Rekayasa Kehutanan, Rekayasa Pertanian, Rekayasa Hayati, Astronomi, serta Fisika.
Sebaliknya, angka persentase partisipasi paling rendah dijumpai pada Program Studi Manajemen yang berada di kisaran 62 persen.
Laporan berkala ini turut membagi corak kesibukan alumni ITB angkatan 2018 ke dalam tiga kategori utama, yakni bekerja, bekerja sekaligus berwiraswasta, serta berwirausaha secara penuh. Hasilnya, didapatkan data bahwa 2.482 alumni atau sekitar 76 persen saat ini mengalokasikan diri untuk bekerja atau bekerja sembari berwiraswasta, sedangkan 164 orang atau 5 persen menetapkan pilihan murni sebagai wirausahawan.